HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerbung. Show all posts

Tuesday, April 24, 2012

Yogie and The Shiny Land - Part #6 (Final part)

     Hello everyone. Jadi mungkin ini adalah bagian akhir dari serial "Yogie and The Shiny Land". Terkesan terlalu cepat? LOL. Yaa, waktu itu redaksi koran hanya membolehkan cerbung/cerita serial maksimal 6 bagian saja. Karena banyak penulis lain yang ingin cerbungnya dimuat juga. hehe. So yeah. Jangan protes kalau cerita ini tamat dalam 6 bagian.
     Oh iya. Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberi komentar. Cerbung ini nanti akan saya jadikan E-book yang bisa didownload, dan tentu saja komentar teman-teman akan saya masukkan juga. Terakhir, terima kasih juga untuk teman-teman semua yang sudah membaca cerita ini. Tanpa pembaca, tulisan ini tentu saja hanya file terabaikan, hehe. Enjoy! :)

(P.S. Cerbung ini telah dipublikasikan di Harian Umum Singgalang, terbit dan beredar di Sumatera Barat, edisi Mei-Juni 2011)

*Catatan: Ini bukan foto Shiny Land, okay?
Ini hanya gambar dari google (click here) yg kebetulan mirip deskripsi ciri-ciri nya.

Belum baca edisi sebelumnya? Click-click!
Ringkasan cerita sebelumnya:

    Perang benar-benar terjadi. Raja dark Kingdom dan seluruh pasukannya berhasil  menyerang sekaligus mengalahkan Shiny Land. Yogie serta Gutanana terdesak hinga ke atap istana. Cahaya terang lagi silau menyelimuti seluruh penjuru saat Yogie menggenggam kristal di ekor Grumpie biru dengan penuh harapan...

  -----Yogie Series #6 - Happy Ending??-----
 oleh: Aul Howler
 


      Yogie membuka matanya. Perasaan aneh sejenak menusuk ulu hatinya saat renda-renda, hiasan-hiasan berkilau, suara nyanyian dan lain-lain secara ajaib sudah berada di jangkauan inderanya. Dan ia sedikit heran, karena mendapati dirinya tengah duduk tersandar di sebuah kursi empuk.

“Untuk Yogie Sang penyelamat, barra” Kepala suku mengangkat gelas di tangannya.
“Untuk Yogie Sang penyelamat, barra” Sambung Raja dan Ratu.
Petinggi-petinggi Shiny Land tak mau kalah. Kemudian mereka semua saling menyenggolkan gelas. Yogie boleh jadi tak tahu kenapa bisa berada di sana, tapi ia tahu bahwa mereka semua bersulang untuk dirinya.

“Kalian berlebihan,” Ujarnya.
Ratu melotot, “Berlebihan, barra?? Bahkan ini masih sangaaat kurang, barra!”
“Ya. Kami seharusnya mengarakmu keliling Shiny Land, barra” Tambah Raja “Hanya saja kau pingsan di puncak istana, dan kami pikir mengarakmu tak akan membuatmu lebih baik, barra.”
Yogie melongo. “Tapi tak perlu berpesta seperti ini hanya karena aku dan Grumpie biru mengalahkan mereka… “

Kepala suku tertawa mengikik, menampakkan giginya yang nyaris tak ada. “Kami tak merayakan kegagah-beranianmu anak muda. Kami merayakan pertunanganmu, tentu saja, barra…”
 “APAA?? AKU… AKU… APA??”
“Reaksimu persis dengan orang itu, saat Ayahku berencana mengadakan pesta pertunangan untuk kalian. Itu, yang berdiri di sana, barra” Ujar Gutarara sambil menunjuk ke sudut ruangan.

Yogie menoleh. Gutanana sedang mematut diri di cermin antik yang menggantung anggun di dinding istana. Ia mengenakan gaun seperti para putri impian di film-film fantasi.

“Jadi aku dan… dia… Ya ampun! Seharusnya ada yang meminta persetujuanku dulu!”
“Tak perlu. Karena kau yang telah terpilih oleh takdir, barra. Bagaimanapun kau menolak atau membantah atau mengingkari atau apapun yang terjadi, takdir akan mempersatukan kalian kembali, barra.”

“Kukira Aku sebagai anak sulung akan bertunangan lebih dulu, barra. Ternyata adikku yang kampungan itu yang lebih dulu. Bahkan dengan sampah asing macam kau”  Ujar Gutarara mengedipkan matanya, angkuh. Sifat centil dan kasar nya pun ternyata persis dengan Ciara, gadis yang disukai Yogie di dunianya. Tapi sekarang, ia merasa tak yakin lagi bahwa ia masih menyukai Ciara. Ya, entah kenapa, ia membenarkan perkataan kepala suku. Dirinya adalah pasangan Gutanana. Artinya ia sebenarnya menyukai Gutanana.
“Tutup mulutmu dan jaga sikapmu. Jangan rusak kebahagiaan adikmu sendiri, barra” Ratu mengomentari ketus.

“DHUARR!!!”
Sebuah ledakan mengahncurkan dinding istana. Lalu beberapa dhuar dan dhuarr lagi menghancurkan dinding-dinding lainnya. Rakyat Shiny Land yang mengira perang telah usai menjadi ribut. Kini semua dinding telah hancur, dan semua orang berkumpul menyudut di sisi kanan dan kiri Yogie. Yogie, tentu saja hilang akal.

 “YOOOOOGGIIIIEE!!!”
Sebuah suara terdengar dari langit. Yogie menggigil.
Apa-apaan ini?

“Kau dipanggil dewa, barra.” Ujar Gutanana, membuat semua orang melongo.
“YOGIE…!! YOGIEE…!!”
 Suara itu bertambah keras, memanggil-manggil.

 “Kau harus pergi, Yogie. Terima kasih untuk semuanya, barra” Gutanana menarik tangan Yogie ke halaman istana. Sebentar ia mencium pipi Yogie, dan ia berlari kembali ke puing-puing istana. Sekujur tubuh Yogie gemetar, ia meraba pipinya. Ia dicium! Dicium!

Gutanana telah berdiri di antara Ratu dan Raja. Mereka semua melambaikan tangan. Yogie ingin mengejar, tapi kakinya masih lemas dan gemetaran. “Tidak Gutanana! Aku… aku tak bisa! Ini terlalu tiba-tiba!! Aku tak bisa!!”

“YOGIE…!! YOOOOGGIIIEEE!!!”
Suara itu makin keras, dan tiba-tiba saja pancaran air yang begitu keras menghantam Yogie dari sisi kiri. Lalu kanan, lalu belakang, lalu depan. Yogie shock, tak tau apa yang terjadi. Ia basah dan kesakitan. Satu lagi pancaran air, dan paling kuat, dari bawah menghantam tubuhnya yang terlentang. Ia terlempar ke udara, dan ia melayang. Perlahan ia merasa dirinya di antara sadar dan tidak sadar, dan semua menjadi gelap.

“YOOGIEE!! BANGUN DOONG!!?”
Seorang gadis menampar-nampar pipi yogie dengan keras, dan menyiraminya berkali-kali dengan air dari botol plastik, dan satu siraman terakhir membuat Yogie terlonjak kaget.

“FFHUUAAAH!!!” Yogie berdiri, dan mengibas-ngibaskan bajunya yang basah. “Dimana ini?”
“Di lapangan, anak manja!” Ciara berteriak dari sudut lapangan. “Idih, jatuh dari sepeda aja sampai pingsan segala! Huh! Aku benci sekali dengan anak laki-laki manja!” tambahnya, kemudian ia mengayuh sepedanya pergi.

“Jangan hiraukan Ciara. Kau tak apa-apa?” Ujar Hanna, sambil mengelap wajah Yogie dengan handuk kecil. “Jangan marah kalau aku menamparmu sampai sekeras itu. Aku tak bermaksud jahat kok. Habis, kau pingsan lamaaa sekali. Hampir dua jam! Aku kira kau geger otak.”

Yogie melongo.
Pingsan? Dua jam?
Benarkah…?

“Maafkan aku.” Hanna bicara lagi. “Kukira rencana kita untuk membuatmu memenangkan balapan sepeda dengan Ciara itu akan berhasil, dan bisa membuat Ciara menjadi suka padamu. Tapi ternyata ia tambah tak menyukaimu… Ah, aku menyesal. Maafkan Aku” Bisik Hanna lirih.

“Lupakan Gutarara! Aku tak suka lagi padanya!” Ujar Yogie.
“Haaah? Gutarara? Siapa? Ciara maksud kamu?” Hanna bingung.

“Pokoknya lupakan Gutarara. Yang Aku sukai ternyata adalah kau, Gutanana!”
Hanna menepuk-nepuk dahi Yogie. “Hei, kau benar-benar geger otak rupanya? Aku Hanna! Oh, kurasa lebih baik kita ke rumah sakit saja.”
“Iya, benar. Aku suka kau, Gutanana.”

Dan sebelum Hanna menepuk dahi Yogie lagi, Yogie mencubit pipi Hanna. “Ini balasannya! Awas kalau kau mencium pipiku lagi, sayang!” Ujarnya. Dan ia mengayuh sepedanya.

“Haaah…!!? YOGIEE!!! APA MAKSUDMU!!??” Ujar Hanna, lalu ia mengayuh sepedanya pula, mengejar Yogie secepat yang ia bisa.

Sore mulai malu-malu, merangkak ke barat bersama matahari merah jambu. Rumput-rumput di lapangan bergoyang, dalam pelukan sisa angin sore yang hangat. Langit yang tadi biru mulai memerah, semerah wajah Hanna dan Yogie saat sampai di rumah.

Padang, 30 Mei 2011
(Tamat)

Tuesday, January 24, 2012

Yogie And The Shiny Land - Part #5

Hello everyone!
Saya hampir lupa. Saya telah mempublikasikan cerbung Yogie And The Shiny Land part 1-4 di blog ini, tapi belum juga mempublish lanjutannya. Bagaimana nanti kalau ada yang penasaran sampai tak bisa tidur??
wkwkwk. [emang ada?]
*ngarang
source here

hehe. okee-oke...
Mungkin sekarang saya publish lanjutannya.
Oh iya, mohon berikan komentar yaaa..
^^
Belum baca edisi sebelumnya? click-click!
Yogie Series part 1
Yogie Series part 2

 Ringkasan cerita minggu lalu:
Peristiwa penembakan panah kayu cahaya oleh Gutanana ternyata berbuntut panjang. Bahkan keluarganya sekalipun, tak bisa mengatakan pertanda baik. Ya, kemungkinan raja dark Kingdom akan mengerahkan seluruh prajuritnya menyerang Shiny Land.
 
  -----Yogie Series #5 - Perang!-----
 oleh: Aul Howler

“Seraaang, barra…!!!”
         Seruan Raja mengawali riuh rendah di bawah sana. Ratusan prajurit dengan pedang dan panah berteriak sambil berlari ke depan dengan penuh semangat. Para wanita dan anak-anak telah bersembunyi dalam gua-gua bawah tanah. Dan Yogie, seperti apa yang diperintahkan kepadanya, berdiri di beranda lantai dua, menjaga istana bersama Gutanana.
         Tampaknya perang tak bisa dihindari. Raja Dark Kingdom menolak, saat Kepala Suku memintanya membatalkan serangan. Bahkan penjelasan bahwa penembakan panah kayu cahaya yang menyebabkan hancurnya tubuh beberapa prajurit Dark kingdom hanyalah sebuah ketidak sengajaan, sama sekali tak diabaikannya.
         “Ini semua salahku, barra…” bisik Gutanana lirih.
         Yogie, yang di berdiri di sebelahnya sejak tadi hanya diam saja, menatap prajurit Dark Kingdom yang kini sudah mulai menembaki apa saja dengan sinar-sinar penghancur.
         “Seharusnya Aku berpikir lima kali sebelum menggunakan panah kayu cahaya itu, barra…” tambahnya.

         Yogie menatap Gutanana. Terlihat jelas Gutanana sedang berada dalam kesedihan yang dalam. Raut wajahnya ―paling tidak dalam 24 jam terakhir― tidak menunjukkan keceriaan, seperti saat mereka baru sampai di Shiny Land dan yogie memecahkan sebuah bunga asmara, dimana Gutanana tertawa sangat keras.

         “Kau memang menyebalkan.” Ujar Yogie.
         “Apa, barra…?” Gutanana kaget. Ia sama sekali tak menebak bahwa Yogie akan mengatainya menyebalkan, bukannya menghibur.
         “Ya. Kau menyebalkan. Aku bahkan mulai lelah mengatakan bahwa itu semua bukan salahmu! Kau melakukannya untuk melindungiku! Dan bla… bla… blaa… yang sudah berkali-kali kusebut sejak peristiwa itu, dan kau masih saja berkata itu semua salahmu. Apa itu tak menyebalkan namanya.”
         Gutanana tersenyum lemah, lalu menunduk lagi.

         “DHUARR!! DHUARRR!!!”
         Yogie dan Gutanana tersentak. Ya, bunyi ledakan barusan terdengar lebih dekat.
         “Mereka berhasil menghancurkan gerbang perkampungan, barra!!” Gutanana menjerit.

         Yogie juga panik, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia masih yakin bahwa prajurit Shiny Land mampu mengatasi serangan, karena mereka membawa banyak sekali kayu cahaya. Selain itu, sejak perang dimulai suara-suara kaca pecah berkali-kali terdengar. Itu artinya sudah cukup banyak prajurit Dark Kingdom yang kehilangan tubuh.

         “AAAAAAAAAAA!!!!”
         Terdengar jeritan lebih banyak di bawah sana. Yogie menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih jelas apa gerangan yang tengah terjadi. Dan kemudian ia ternganga. Prajurit Dark Kingdom dalam jumlah yang luar biasa banyaknya berbaris rapi, dan mendesak masuk sambil menghancurkan apa saja dengan sinar-sinar biru dan ungu dari mata mereka.

         “Sepertinya pasukan Shiny Land kehabisan senjata, barra! Dan agaknya banyak sekali yang terluka, barra! Bagaimana ini, barra!!” Gutanana semakin panik.
         “DHUARR!!”
         Sebuah sinar penghancur mengenai dinding beranda. Yogie dan Gutanana terlempar ke belakang.
         “Kita harus cepat sembunyi!” Ujar Gutanana, kemudian menarik lengan Yogie. “Ayo Grumpie! Kau juga, Grumpie biru! Barra!” teriaknya. Dan kedua Grumpie yang tengah bermain di sudut beranda mengikutinya.
         “Tunggu. GRUMPIE BIRU… barra…!!??”

         Yogie heran. Eksrpesi Gutanana sebentar-sebentar berubah. “Ada apa dengan Grumpie biru?” Ujarnya, tak tahan bertanya
         “Aku… saat kecil dulu, barra! Kakek selalu menceritakan dongeng tentang Grumpie biru dalam legenda yang bisa meredakan setiap kemarahan, yang bisa memusnahkan setiap rasa kebencian, dan selalu membawa kedamaian bagi siapa saja, bara!”
         Yogie tertawa. “Dan Grumpie biru ini sudah berada di sampingku sejak aku juga berada di sini beberapa hari yang lalu. Jadi kenapa masih ada peperangan?”
         “Kau benar, barra.” Ujarnya. “Pasti itu memang hanya dongeng karangan kakek, barra. Padahal tadinya aku berpikir Grumpie biru bisa meredakan perang, barra.”

         Yogie tertawa lagi, dan Grumpie biru di sebelahnya melompat-lompat senang dengan ekor spiralnya. Bola berkilauan seperti Kristal di ekornya berkelap-kelip.
         Yogie membelalakkan mata. “Tak ada salahnya mencoba!!” jeritnya.  “Ayo! Grumpie! Kita ke puuncak atap istana!”

         Grumpie biru itu melingkarkan ekornya ke pergelangan tangan Yogie, dan mengangkatnya ke udara dengan beberapa kali kepakan sayapnya.
         “Apa yang kau lakukan, barra!!??” Gutanana memekik.

         Sebuah suara dhuar lalu dhuarr lagi terdengar di belakang Gutanana. Ia kaget bukan main. Prajurit Dark Kingdom berhasil memasuki istana, dan beberapa sudah di hadapannya. 

         “Grumpiee!” ujar Gutanana, memanggil Grumpie coklat miliknya. Grumpie itu menjulurkan ekornya, dan Gutanana menggenggam batu berkilauan di ujungnya. Sebentar cahaya terang berpendar, dan beberapa prajurit Dark Kingdom yang tadi mendekat, berlarian mundur sambil memegangi mata mereka dan mengaduh kesakitan.
         “Kita ke atas juga, barra! Mereka hanya akan buta sementara, barra!” Ujar Gutanana kepada Grumpie nya. Dan Grumpie itu mengangkatnya ke atas, menyusul Yogie.

            Panik sepertinya bukan kata yang pantas untuk keadaannya saat ini. Ia sangat panik! Agaknya dirinya dan Yogie adalah yang tersisa di atas tanah, sementara seluruhnya telah bersembunyi. Gerombolan prajurit Dark Kingdom, di bawah pimpinan raja Dark Kingdom telah menanti di bawah sana. Dan beberapa Prajurit Dark Kingdom yang tadi buta oleh cahaya grumpie coklatnya, kini telah kembali pulih, dan merangkak menuju puncak istana tempat Yogie dan Gutanana berdiri saat ini.

         “Sekarang apa, barra?” Ujar Gutanana.
         “Kita coba. Aku yakin kakek mu bukan pembohong!” Ujar Yogie. Ia meraih ekor Grumpie biru nya, dan menggenggam baru berkilauan di ujungnya yang tadi berkelap-kelip. Cahaya yang sangat terang dan sangat silau berpendar dari tubuh Grumpie biru, menyinari Shiny Land. Yogie dan Gutanana memejamkan mata, menunggu apa yang akan terjadi.

Thursday, August 11, 2011

Yogie And The Shiny Land - Part #4



Well, too much doesn't mean good in negative thing.


And, Is too much busyness+study a negative thing?


Actually not, but I don't think so... 
















This was tiring!

No! I couldn't accept this anymore! I need a break and holiday!

I need the fresh air to breath! 


 Sniff... sniff... sniff...





( poor I am, I have to study at faculty until August 27th )

:(





Btw, in this opportunity I can't tell ya my journeys.


So, it's better if you guys all enjoy the next part of my stories...

Published on SINGGALANG newspaper, June 2011 edition. 




(Uhm.. Sorry... available in indonesian language only)


~Toowhit Toowho...!!~





Not read the previous parts yet? click-click!








 Ringkasan Cerita Sebelumnya:




                (Kemunculan
kakak Gutanana benar-benar mengejutkan Yogie. Betapa tidak, ia sangat mirip
dengan Ciara, gadis centil yang Yogie sukai di dunianya! Sifat jutek dan
pemarahnya pun sama persis. Namun, kemarahan Gutarara, Kakak Gutanana itu kali
ini cukup beralasan, mengingat pertanda akan datangnya serangan dari Dark
Kingdom mulai muncul di ujung Shiny Land….)






  -----Yogie Series #4 -
Persiapan
-----


 Oleh: AuL



 




“Kalau begitu ini cukup gawat, barra,”


                Lelaki
dengan baju menyerupai dewa di film-film itu mengelus-elus jenggotnya yang
seputih salju di bulan desember. Raut-raut keriput di wajahnya begitu tua,
seolah umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Emas murni bergelayut di
pergelangan tangan dan lehernya, melingkari dahinya, dan melilit tongkatnya, membuat
orang ini terlihat begitu kaya dan berkuasa. Ya, kakek Gutanana ini adalah
kepala suku Shiny Land, yang kedudukannya paling tinggi di tempat itu.







                “Ayahanda
benar, bara,” Ujar seorang wanita bergaun gemerlap di sampingnya —Sang ratu,
sekaligus Ibu Gutanana— dan bermahkota dengan hiasan rubi. “Prajurit Dark
Kingdom saja sudah gawat, apalagi rajanya juga, barra.”


                “Kita
tidak bisa diam saja, barra.” Ayah Gutanana —Raja Shiny Land— ikut berpendapat.
“Kita harus mempersiapkan diri untuk menahan serangan! Bahkan, bila perlu kita
serang balik, barra!”





                Kepala
suku diam saja. Kerutan di dahinya sejenak bertambah beberapa baris, menandakan
ia sedang berpikir keras.  Kemudian ia
bersuara, “Apa menurut kalian, kita masih bisa melunakkan hati Raja Dark
Kingdom? Maksudku, bila kita jelaskan kepadanya, bahwa kehancuran tubuh salah
satu prajuritnya karena panah kayu cahaya itu adalah sebuah ketidaksengajaan,
apa kira-kira dia mau membatalkan serangan?”





                Ayah
Gutanana menggeleng, “Kita tidak bisa memprioritaskan hal itu, Ayahanda.  Mungkin kita bisa jadikan itu sebagai rencana
pertama. Tapi rencana kedua, ketiga dan seterusnyalah yang harus kita
prioritaskan. Kita tidak boleh ambil resiko dengan satu rencana. Kita harus
tetap pastikan tidak ada penghuni  Shiny
Land yang terluka, barra!”





                Kepala
suku menatap raja dengan pandangan penuh sirat kebanggaan. “Kau adalah raja
yang jauh lebih bijaksana daripada aku, saat aku masih memerintah dulu, barra.”





                Raja
tertawa, “Tidak, barra! Ayahanda lah yang mendidik dan mengajarkan aku menjadi
raja yang harus selalu punya rencana cadangan, bukan? Itu artinya Ayah lebih
hebat dariku, barra! Bahkan, dulu Ayah berhasil memukul mundur serangan Dark
Kingdom, ingat tidak, barra…?”





                Kepala
suku menggaruk kepalanya yang sebagian besar telah botak. “Waaah…. Aku terlalu
tua untuk mengingat itu. Rasanya memang pernah tapi…. Entahlah, barra! Penyakit
pikun ku tambah oarah saja, barra” Ujarnya sambil tertawa terkekeh, memamerkan
deretan giginya yang tak lagi lengkap. Semua yang berkumpul di istana termasuk
Gutanana, Gutarara, Raja, Ratu, petinggi prajurit, pimpinan daerah, dayang dan
sebagainya, ikut tertawa. Tapi Yogie yang juga berada di sana hanya diam saja,
dongkol diabaikan semua orang.





                “Maaf,
permisi. Saya rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk tertawa atau reuni
keluarga. Bukankah Shiny Land akan diserang?” Yogie tak tahan berkomentar.


                “Anak
muda ini benar. Kita harus segera bersiap, barra.” Raja bergumam, kemudian ia
mengangkat kedua tangannya, lalu menghentakkan tongkat besarnya 3 kali ke
lantai.





                “Perintah
kepada seluruh pimpinan dan petinggi Shiny Land! Tolong beritahukan seluruh
penduduk terutama wanita dan anak-anak, agar segera bersembunyi di dalam
gua-gua bawah tanah. Sebagian lelaki harus ikut bersembunyi, lindungi wanita
dan anak-anak! Kita tak bisa lengah, bila saja prajurit Dark Kingdom mampu
menerobos pertahanan yang akan dibuat. Sebagian lelaki lainnya yang mahir
memanah dan menombak, tolong persiapkan tombak, busur dan anak panah kayu
cahaya. Harap ikut berperang bersama prajurit Shiny Land lain. Sekarang Juga!”





                Dan
semua orang mulai sibuk, berlarian ke sana ke mari. Rumah Gutanana yang
merupakan istana pusat kerajaan itu perlahan mulai sepi. Yang sekarang berada
di dalamnya hanya Gutanana sekeluarga.


                “Aku…
aku… minta maaf, barra!” Gutanana memulai. Suaranya tbergetar, sepertinya
menahan keinginan untuk menangis.


                Gutarara
menjerit, “Maaf saja tidak cukup, barra! Apa yang telah kau lakukan memang
sangat keterlaluan! Kau menyebabkan kehancuran, barra! Kau menyebabkan
penderitaan, barra! Kau menyebabkan perang, barra!”





                Gutanana
menunduk. Air matanya mulai menetes, mengalir melalui pipinya dan jatuh ke
lantai. “Maafkan Aku… barra…”


                “Sudah
kubilang kan, ini semua bukan salah Gutanana. Ini salahku! Gutanana menggunakan
panah keramat itu hanya karena berusaha melindungiku dari serangan prajurit
kingdom. Kenapa tak ada yang mau mengerti…?”





                Gutanana
berhenti menangis, dan hiasan kepalanya bersinar. Gutarara melotot galak, lalu
berteriak lagi, “HAAHH!! Di saat seperti ini malah terjadi, barra!!” kemudian
ia meninggalkan ruangan itu.


                “Apa?”
Ujar Yogie, sama sekali tak mengerti.


                Raja
tersenyum, “Kau… Sepertinya yang dipilih menjadi menantu kami, barra.”





                Wajah
yogie memerah. Tubuhnya tiba-tiba terasa tak nyaman. Jantung nya berdebar lebih
cepat, dan ia dapat merasakan setiap inci dari nadinya berdenyut-denyut kuat.
“Eh… kalau tidak salah tadi anda bilang… me… meenan… menantu…??”





                Raja
mengangguk, dan Yogie merasa ingin pingsan. “Apa alasannya? Apa seperti yang
dikatakan Gutanana sebelumnya? Bahwa aku telah memecahkan bunga asmara karena
perasaanku pada Ciara, yang mirip Gutarara…?”


                Raja
dan ratu melongo. “Gutarara… barra…?”





                Yogie
mengernyitkan dahinya, heran. Sungguh, selama berada di Shiny Land sudah
berkali-kali ia merasa heran —atau terkejut— karena banyak hal. Tapi ini yang
membuatnya paling heran. “Tadi anda bilang….”


                “Gutanana,
maksud kami. Tentu saja, barra” Kepala suku angkat bicara. “Hiasan kepala
seorang putri keturunan raja akan bersinar bila calon suaminya telah ia temukan.
Dan kau, anak asing yang ingin tahu, telah dipilih oleh hiasan kepala Gutanana.
Artinya…..”





                Yogie
memotong cepat, “Aku…? Dan Gutanana akan…? MUSTAHILL!!!”


                Gutanana
ikut memerah mukanya. “Ayahanda, Ibunda, Kakek… Aku rasa sekarang buakn saatnya
membicarakan masalah kecil ini. Sebaiknya kita juga bersiap-siap menghadapi
gempuran Raja Dark Kingdom, barra!”


                “Biar
aku saja yang nanti mencoba bicara pada Raja Dark Kingdom, barra.” Kepala suku
mengusulkan.


                “Aku
dan Gutarara akan ikut melindungi para wanita dan anak-anak di gua bawah tanah,
barra” Ratu ikut bicara.


                “Aku
akan memimpin pasukan perang, barra.” Raja tak mau kalah.


                 “Dan
aku… Dan Gutanana… apa yang harus kami lakukan…?” Yogie mengeluh.





                Raja
memejamkan matanya sebentar, kemudian ia tersenyum. “Kami tak bisa biarkan
calon menantu terluka. Kau sebaiknya jaga tuan putrimu dan istana ini, barra.
Ini perintah, barra.”


                Yogie
tak berkutik lagi. Ia terpaksa menerima saja.





 (Bersambung)

Wednesday, June 8, 2011

Yogie And The Shiny Land - Part #3

Hi everyone! Sebelum mulai dengan cerbung Yogie And The Shiny Land saya mau menyampaikan sesuatu dulu nih: MAAF!

     Maaf empat hari terakhir saya tak membalas kunjungan + Komentar teman-teman semua. Tanya kenapa? Hoho. Sejak tanggal 18 Mei lalu saya LIBUR. Yah, walaupun masih ada kegiatan sedikit-sedikit.
Jadi, hari minggu lalu saya pergi untuk do'a bersama (hari ke-7) pasca peristiwa ini. Dan karena kebetulan lagi libur, saya rasa tak ada salahnya untuk menginap di rumah tante 2-3 hari lagi. Dan jadilah!

 Tempatnya di kaki gunung merapi, Sumatra barat. That's the point! Saya rasa refreshing sejenak bagus juga buat kesehatan otak. wkwk. Daaan, lari pagi di tempat ini sangat menyenangkan (dan dingin. brr...)

And, what about some fashion atack?
I wore:
Volcom red sweater, unbranded white T-shirt, Red handmade bracelet, Adidas black sweatpants, Sendal gunung Eiger

P.S.
kalau ada yang nanya, kenapa sendal eiger terus yang saya pakai?
Memalukan memang, tapi semua outfit yang dengan konyol nya saya tampilkan di sini,
adalah koleksi pribadi. Saya bukan tipe orang yang boros loh, yang membeli barang2 seenak perut.
Gyahaha. Buat yang mau jadi sponsor, silahkan! Tangan kami tebuka untuk anda. #GUBRAK

Cukup basa-basinya.
Gak sabar mau baca kan? Hehe.
Here we go!
Masih dimuat di koran yang sama kok. hehe <3

Anyway, untuk yang belum baca edisi sebelumnya, silahkan klik link2 berikut.
Yogie Series part 1
Yogie Series part 2


( Ringkasan cerita edisi sebelumnya: Yogie mengikuti Gutanana mencari tempat yang lebih aman dari kejaran prajurit Dark Kingdom. Serangan demi serangan berhasil mereka lewati, hingga mereka sampai di Shiny Land, tempat yang membuat Yogie takjub…)

  -----Yogie Series - Part #3 Panik! -----
 Oleh: AuL

          
        “Kereenn!!” Yogie tak tahan diam saja.
            Gutanana mengerutkan dahinya, “Apa itu kereenn, barra?”
            Yogie tertawa. “Bisa dibilang bagus, unik, menarik, luar biasa. Yah, semacam penilaian untuk hal-hal tertentu. Tempat ini misalnya.”
            Gutanana diam saja. Sebentar ia menatap Yogie penuh binar kekaguman. Seulas senyumnya merekah, dari kulitnya yang putih bersih.
            Yogie segera mengalihkan pandangannya. Entah kenapa, wajahnya mendadak terasa panas, dan ia yakin juga bersemu merah! Celakanya, situasi saat itu tak bisa dibilang biasa-biasa saja. Ini terlalu indah, dan agak —ya ampun— romantis!
            Nama Shiny Land barangkali bukan sekedar nama asal jadi, karena tempat itu memang benar berkilauan (shiny). Rumput-rumputnya berkilauan, seakan-akan disetiap ruasanya terdapat embun yang tak pernah mengering. Pohon asing tumbuh di mana-mana, juga tak kalah berkilauan, seolah kulitnya bertabur serpihan berlian. Langitnya tampak lebih cerah, mataharinya lebih terang, dan danau di ujung sana seperti puding melon, bercahaya menghijau karena pantulan bayangan tumbuhan di sekitarnya.
            Ada sebuah tumbuhan yang mencolok di antara yang lainnya, membuat rasa ingin tahu Yogie tak bisa disembunyikan. Ia mendekati tumbuhan itu. Bila matanya tidak salah, apa yang ia lihat tumbuh bergerombol di hadapannya adalah boneka bentuk hati —Simbol ‘LOVE’— dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang hijau dan berukuran lebih kecil, ada yang merah, lalu ada yang pink! Jemari yogie terulur, ingin mengusap salah satunya yang berwarna pink dan kelihatan begitu lembut.
            “DHOR!!”

            Letusan di ujung jarinya membuat Yogie kaget bukan main, sampai terlonjak dan terjengkang ke belakang. Dari sisa letusan boneka hati itu, puluhan boneka hati kecil dengan sayap mereka berterbangan ke segala arah.
            Gutanana tertawa keras memegangi perutnya, dan kedua Grumpie yang sejak setengah hari terakhir mengikuti mereka, kini melompat-lompat dengan ekor spiralnya, kelihatannya ikut merasakan kegembiraan, saat menyaksikan Yogie —ia mendadak merasa telah bertingkah konyol.
            “Itu adalah bunga asmara, barra. Yang merah adalah bunga jantan, dan yang pink bunga betina. Bunga jantan akan meletus bila ada seorang perempuan yang sedang atau telah jatuh cinta menyentuhnya. Begitu pula sebaliknya, untuk bunga betina barra. Bedanya, bila bunga betina yang meletus, ia akan menerbangkan biji-bijinya, barra.” Gutanana menjelaskan.
            Yogie menggaruk dagunya. Untuk kedua kalinya dalam sehari ini. Ini tempat yang sungguh aneh. Pertama, ada Grumpie, hewan aneh. Kedua, ada Gutanana, gadis aneh. Ketiga, ada prajurit aneh yang bila tertembak panah kayu cahaya akan lahir kembali dari pohon angkara. Dan sekarang ada lagi bunga asmara, yang aneh: meletus bila disentuh oleh orang yang jatuh cinta. Kemudian muka Yogie memerah lagi, lebih merah dari sebelumnya. “Kalau begitu aku… jatuh… cinta? Ah!! Enggak kok!! Siapa bilang??”
            Gutanana tersenyum. “Tak ada yang bisa menyembunyikan perasaannya saat bersentuhan dengan bunga asmara, barra!”
            Yogie menunduk malu. “Ya, aku memang menyukai seseorang di duniaku. Ciara namanya. Tapi bukan cinta.” Ujarnya. Mukanya benar-benar merah sekarang. Baginya, masalah cinta itu terlalu pribadi, tak pantas dibicarakan. “Lagipula, aku kan masih 15 tahun….”
            “DARI MANA SAJA KAU, BARRA!!”
            Seorang gadis tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Gutanana., membelakangi Yogie. Seekor lagi Grumpie, melayang di sampingnya. Grumpie ini kelihatan lebih genit dengan warna pink ke unguan.
            “Kakak… aku memetik stroberi-stroberi ini, barra.” Ujar Gutanana sambil mengangkat keranjangnya.
            “Di perbatasan Dark Kingdom, barra?” Gadis itu meninggikan suaranya.
            Gutanana mengangguk lemah. Gadis yang ternyata kakak Gutanana itu berkacak pinggang. “Kau ini bagaimana, barra!? Apa kau bisa berpikir apa yang akan terjadi bila pasukan dark Kingdom menyerangmu, barra!?”
            “Aku punya panah kayu cahaya. Dan aku membawa serta Grumpie-ku. Jadi, tadi kami tidak apa-apa. Kakak tenang saja.”
            Gadis itu lebih meninggikan lagi suaranya. “Kau menembak mereka dengan kayu cahaya, barra!?”
            Gutanana mengangguk lagi. Kali ini kakaknya mendorongnya hingga terduduk di rumput. “BERANINYA KAU, BARRA!!”
            “Hei, hentikan!” teriak Yogie, tak tahan menyaksikan Gutanana dimarahi.
            Gadis itu sepertinya sedari tadi tak menyadari keberadaan Yogie beberapa meter di belakangnya. “Siapa Kau, barra?”
            “Aku Yogie. Aku teman Gutanana. Tolong jangan salahkan dia telah menggunakan anak panah itu. Dia melakukannya demi melindungiku! Jadi, kalau kau….”
            Yogie tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat ia mendekati gadis itu dan tersentak. Bila kekagetan bertemu Gutanana yang sangat mirip dengan Hanna sahabatnya itu, diibaratkan dengan memotong satu jarinya, maka bertemu gadis ini barangkali bisa diibaratkan dengan Yogie tak punya jari lagi karena telah terpotong semua. Kakak Gutanana ternyata sangat mirip dengan gadis angkuh yang disukainya: Ciara!
            “Ciara…?” Yogie berbisik, sambil mengamati gadis itu lebih seksama.
            Gutanana melotot, “Yogie?? Ciara, cintamu yang kita  bicarakan tadi itu... maksudmu kakakku, barra!!???”
            Belum sempat Yogie menjawab, gadis yang mirip Ciara itu mendorongnya, seperti ia mendorong Gutananatadi. Yogie terduduk di rumput, tepat di samping Gutanana.
            “Aku memang cantik dan terkenal, dan disukai semua lelaki. Tapi tak ada yang berani merendahkanku dengan memanggilku dengan nama lain. Aku Gutarara!! Barra!”
            Tiba-tiba langit di ujung danau menjadi gelap. Angin yang dingin mulai bertiup di sepanjang padang rumput yang kini mulai meredup cahayanya. Suasana mulai mencekam. Yogie terdiam. Ia yakin ini bukan pertanda baik.
            “Ini yang aku khawatirkan karena panahmu itu, barra! Dengan memecahkan tubuh prajuritnya, Raja Dark Kingdom akan mengira kita menantangnya berperang. Ayo, kita kembali ke perkampungan, barra! Kita harus cepat memberitahu ayah dan Raja Shiny Land! Barra!”
            Gutarara menarik tangan Gutanana dan yogie. Kemudian mereka berlari, bersama kepanikan yang menyesak dalam relung-relung dada mereka…
 (Bersambung)

Sunday, May 22, 2011

Yogie And The Shiny Land - Part #2

 ( Ringkasan cerita edisi sebelumnya: Saat sadar, Yogie mendapati dirinya tidak berada di kamarnya. Celakanya, ia tak ingat apa-apa kecuali namanya, kamarnya, gadis yang disukainya, dan sahabatnya! Ditengah kebingungannya, seekor hewan aneh muncul, menyusul seorang gadis aneh pula. Dan sebelum ia bercerita banyak, tiba-tiba ledakan bertubi-tubi menyerang… )

-----Yogie Series - Part #2 Selamat Datang! -----
Oleh: AuL
            “DHUAAARR!!!”
            “DHUAAARR!!! DHUUUAAARR!!!”
            Ledakan demi ledakan menghancurkan dinding-dinding berlumut di hadapan Yogie dan gadis itu. Debu berterbangan di mana-mana, dan cahaya mulai masuk ke dalam bangunan yang sebagian dindingnya telah rata dengan tanah itu.

            “Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
            Yogie tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu dibalik kepanikan yang kini melandanya. Belum lagi hilang keterkejutannya akan hewan aneh dan gadis aneh yang muncul di hadapannya, kini ia harus menghadapi hal aneh lainnya.

            “Kita diserang, barra.” Gadis itu berbisik.
            “Kenapa kita diserang? Memangnya apa yang telah kita lakukan?”
            Gadis itu menatap Yogie, tajam. “Kita telah berada di pebatasan Shiny Land, barra! Di daerah perbatasan dengan Dark Kingdom, barra! Mungkin mereka mengira kita adalah mata-mata, barra!”
            “Mereka? Mata-mata?” Yogie mengulangi. Sebentar ia berpikir, mencoba memahami. “Maksudmu, kita sedang diserang karena dianggap musuh, oleh penghuni Dark Kingdom?”
            “Begitulah, barra!” Ujar gadis itu sambil mengambil panah dari keranjang stroberinya, dan melepaskan sebuah anak panah ke arah dinding yang telah berlubang. Terdengar jeritan panjang dan suara kaca pecah.
            “Kau membunuh mereka!” Yogie berteriak histeris.

            “Tidak, barra! Prajurit Dark Kingdom yang terkena panah kayu cahaya hanya akan kehilangan tubuhnya, barra!. Jiwanya kembali ke bukit tandus, dan dalam dua hari tubuh serta jiwa mereka akan muncul kembali dari pohon angkara, barra!” Gadis itu menjelaskan.

            Yogie diam saja. Tapi paling tidak ia sedikit mengerti. Ya, kegemarannya akan game RPG atau novel-novel petualangan membuatnya memiliki cara pikir yang bagus dalam banyak hal.
            “Ikuti aku, barra! Cepat!” Gadis itu berbisik, kemudian ia bergegas menuju pintu.

            Tanpa banyak tanya lagi, Yogie mengikutinya. Lantai yang penuh lumut membuat Yogie harus berhati-hati berjalan cepat. Tapi matanya tetap menoleh kemana-mana.
            Sekarang mereka menuruni tangga yang juga penuh lumut. Tangga yang sangat panjang, yang bahkan tak kelihatan ujungnya. Tapi karena gadis itu terus saja menuruni tangga, maka Yogie pun tetap mengikutinya.
            Tiba-tiba gadis itu berbalik menuju Yogie dan menubruk Yogie hingga jatuh terduduk. Sebuah kilatan cahaya ungu melewati mereka, meleset mengenai anak tangga di atas mereka. Anak tangga itu hancur berserakan.

            “Ya ampun, hampir saja!” Yogie terbelalak. “Apa yang barusan menyerang itu mereka?”
            Gadis itu mengangguk. Segera ia menyentuh benda berkilauan di ujung ekor spiral grumpie coklat yang sejak tadi terbang mengiringi nya. Dan cahaya kuning keemasan berpendar dari sayap dan benda berkilau di dahi grumpie coklat itu.

            “AAAAARGH!!” terdengar beberapa suara mengerang.
            “Apa yang sedang kau lakukan?” Yogie bertanya bingung.
            “Ada tiga prajurit Dark Kingdom di depan kita, barra! Mereka akan buta sementara karena tak tahan cahaya grumpie, barra!” ujarnya. “Ayo kita terus, barra!”

            Dan gadis itu mulai berlari menuruni anak tangga. Sebenarnya Yogie agak kesal juga, karena ia belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, dan gadis itu agaknya belum mau bercerita banyak.
            “Ayo kita ikuti dia,” Bisik Yogie pada grumpie biru yang sejak tadi melompat-lompat di sampingnya. Hewan itu mengepakkan sayapnya, melayang di sebelah Yogie.
            “GRUMMPIII…” Ujarnya. Sepertinya ia mengerti apa yang diucapkan Yogie.
            Dan mereka berlari mengikuti gadis yang bahkan belum diketahui Yogie namanya itu.

            Sebuah cahaya ungu melesat lagi. Kali ini dari belakang Yogie, yang hampir saja mengenai kepalanya. Yogie terkejut, tentu saja. Bagaimana aku bisa menghindarinya? Yogie membatin. Tapi kemudian grumpie biru yang melayang di sampingnya menjulurkan ekornya yang spiral. Yogie ingat. Segera ia menggenggam benda seperti berlian di ekor grumie biru itu,  dan tak lama cahaya biru yang terang berpendar dari sayap dan dahi hewan itu.
            “AAAARGHH!!” terdengar sebuah suara mengerang.
            Yogie tersenyum, kemudian melanjutkan lagi setengah berlari menuruni anak tangga yang telah kelihatan dasarnya.

            “Kau tidak apa-apa, barra?” Gadis itu telah berdiri di ujung tangga.
            “Ya.” Yogie menjawab, singkat. “Hei, namamu siapa?”
            “Aku Gutanana, barra! Dan tadi kau bilang namamu Yogie, barra?”
            Yogie mengangguk. “Kenapa dari tadi kau selalu berkat barra-barra-bara?”
            Gadis itu tersenyum. “Bahasa kami, barra!”
            “Oh begitu” Yogie menggaruk dagunya. Mungkin yang dimaksud Gutanana adalah dialeg atau logat. Tak aneh bukan? Di indonesia saja ada banyak dialeg atau logat tergantung suku atau daerah tempat tinggal penduduknya. Sama sekali tak mustahil di tempat asing ini juga ada logat tertentu.

            Gutanana melangkah lagi. “Untunglah kita sudah berhasil menjauhi perbatasan, barra! Prajurit Dark Kingdom tak bisa bertahan lama bila sampai di sini, barra!”
Gadis itu membuka pintu besar tak jauh dari ujung tangga. Cahaya terang langsung saja membuat Yogie mengangkat lengannya, menutupi matanya.

“Dimana kita?” Yogie bertanya.
            “Kita sudah sampai, barra. Selamat datang di Shiny Land, barra!” Jawab Gutanana, sambil melambaikan tangannya ke samping, layaknya seorang oemandu wisata yang menunjukkan bangunan-bangunan penting.

            Yogie tersenyum geli, dan menurunkan lengannya. Ia melangkah keluar dari pintu dan matanya terbelalak. Pemandangan yang kini terhampar di depan matanya sungguh membuatnya takjub.

(Bersambung)

My Ping in TotalPing.com
submitgooglesitemap.com Sitemap Generator