HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

Showing posts with label Junn Series. Show all posts
Showing posts with label Junn Series. Show all posts

Sunday, March 27, 2011

Junn Series #5 - Segitiga?

I wanna tell somethin great before Junn Series:
Jadi kemarin kan rapat redaksi Koran Singgalang ( yang halamanpelajar ). Tau-tau seorang gadis menghampiri tempat saya duduk --> A S Oktriwina, penulis juga. Well, belum lama ini dia study tour gitu, dan ternyata bawain saya oleh-oleh: Sebuah Gelang!! (tidak termasuk Jam lho. wkwk)

I love love love My new bracelet. It makes me more fashionable than before *PLAKK!! (sorry)
Di koin-tua nya ada gambar naga, burung, dll dengan wujud garis-garis ala coretan diatas tanah Nazca gitu. Keren banget!!

Bagi teman-teman yang mau bertandang ke blog nya, Just Click Here!
Do follow her blog if you want, coz she will follow back every blogger who follow hers.
Have a nice visit! :)

Nah...
Sekarang baru deh, saya mau post cerbung Junn Series Bagian Akhir. Bagi teman-teman yang belum baca bagian sebelumnya, jangan khawatir, tinggal klik link2 berikut:

Bagian 1 - Pertemuan Dengan Teman Baru
Bagian 2 - Telat!
Bagian 3 - Unpredictable MOS!
Bagian 4 - Bantuan!

Deg-deg-deg...
Are you ready...??

(  Ringkasan cerita bagian sebelumnya: Bantuan datang! Junn selamat dari Alev dan bahaya yang ia hadiahkan. Seluruh pengurus OSIS dipanggil, dan kelegaan mekar dimana-mana… )

-----Junn Series 5 – Segitiga?-----
Oleh:  Aul Howler


    Tiga hari telah berlalu, sejak Junn menginjakkan kaki di SMA Bunga Bangsa. Suka duka perjuangannya di awal bersekolah, sekarang terasa begitu manis. Ia akan merindukannya, ia yakin itu. Yah, akhirnya Masa Orientasi Siswa telah usai.

    Sekarang aku bisa leluasa, piker Junn. Aku tak perlu takut lagi pada apapun – atau pada siapapun – selama tak melakukan kesalahan atau menyiggung orang lain. Aku bisa menimba ilmu lebih tenang, menganyam setiap kenangan dengan lebih tenang, dan merajut masa depan yang lebih baik dengan tenang. Tak ada yang akan bisa menggagguku. Ya, semoga tak ada.
“Junn! Ke kantin yuuk!”

    Riri melambaikan tangan dari pintu kelas. Junn segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja, kemudian menyimpannya ke dalam laci. “Let’s go!”

    Hari yang indah. Kapas putih yang bergumpal melayang perlahan di atas sana, merelakan dirinya dibakar si kuning garang. Bahkan suasana sekolah pun juga terasa indah.  Dimana-mana hanya ada senyuman dan wajah ceria. Tak ada lagi ketegangan, ketakutan dan suasana mencekam seperti yang lalu. Yah, semua murid baru termasuk Junn memang mulai bisa menikmati masa SMA sekarang.

    “Hei, Junn!”
    Seseorang menyapa dari belakang. Sebentar Jun merasa sedikit gugup. Tapi segera ditepisnya rasa itu, mengingat statusnya bukan ‘junior’ lagi sekarang.
    “Kakak memanggil saya?” Junn bertanya pelan. Masih terdengar sedikit takut. Ternyata sindrom MOS belum hilang sepenuhnya.

    “Ya.” Jawab Alev. Kemudian ia mendekat.

    Riri meremas lengan baju Junn, dan segera berdiri di belakangnya. Keberaniannya terlalu sedikit. Itupun sekedar mengintip orang yang kemarin menyebabkannya pingsan, dari balik bahu Junn. Kakinya sedikit gemetar, membuatnya mencengkeram Junn semakin kuat. Ia takut ia akan roboh lagi.

    “Ada apa, Kak?”
    Giliran Alev yang kelihatan gugup. Keramahan Junn setelah apa yang terjadi belum bias ia terima begitu saja. Hatinya bergetar lagi, menangkap sifat Junn yang lain: Pemaaf. Bahkan Alev tak yakin bias memaafkan dirinya sendiri, setelah apa yang diperbuatnya.

    “Err, Gue mau minta maaf.” Ujarnya memberanikan diri.
    Senyum Junn mengembang, membuat Alev makin gugup. Riri mulai melepaskan genggamannya, meninggalkan alur kusut di lengan baju Junn
   “Sama-sama. Saya juga minta maaf, karena sudah lancing kemarin,”
   “Gue benar-benar menyesal. Entah setan apa yang merasuki gue kemarin-kemarin, sampai gue setega itu sama Lo dan anak-anak lain.”

   Junn tersenyum lagi, “Dan Kak Zhafif?”
   Alev diam. Rasanya ia belum bias menghapus begitu saja kedengkiannya pada Zhafif. Tapi ia berusaha melakukannya. “Ya, Zhafif juga.”
   “Baguslah kalau begitu,” Ujar Junn sambil menarik lengan Riri untuk segera ke kantin. “Duluan, Kak!”
   “Eh gue…”
   Alev masih mau melanjutkan. Jun berhenti melangkah. “Ada apa lagi ya, Kak?”

    Alev menarik nafas, dalam. Lalu ia bertepuk tangan. “Di sana!” Ujarnya sambil menunjuk lapangan basket.
Junn menoleh. Beberapa murid berpakaian Cheers berdiri dalam barisan, masing-masing memegang sebuah karton. Sambil berteriak, mereka membalikkan dan mengangkat kartonnya. Beberapa huruf besar muncul, yang bila dieja berbunyi I LOVE YOU.

    Junn terbelalak, mukanya merah – malu. Riri malah menutup sebagian wajahnya sendiri dengan tangan: Semakin yakin ia akan roboh. Tapi agaknya bukan karena takut, melainkan karena shock atas adegan barusan. Dan Alev, di hadapan mereka tersenyum. Senyum tulus yang sejak pertemuan pertamanya dengan Junn tak pernah ia sunggingkan. Dan menurut hemat Riri, entah kenapa dengan senyum itu Alev terlihat tampan.

    “Sa… Saya…” Junn tergagap. Perasaannya campur aduk antara heran, bingung dan sedikit – senang. Semuanya terasa kacau dan serba tak nyaman, seperti bayi yang buang air besar di dalam popok. Dan semuanya terasa serba panas, membuat Junn dan bajunya basah berkeringat.
“Gak perlu jawab sekarang,” Alev berbisik. “Kapan-kapan aja, kalau udah siap. Gue bersedia nunggu.”
Sementara gadis-gadis Cheers di lapangan basket mulai bernyanyi. Lagu cinta! Dan beberapa siswa di sekitar lapangan bersorak riuh rendah, bersuit-suit dan meledek.

    Junn salah tingkah. Dadanya berdebar lebih cepat. Mungkinkah ia juga suka pada Alev? Bagaimana dengan perasaan aneh yang ia rasakan untuk Zhafif? Junn menunduk, stress dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu, di kelas lain tak jauh dari sana, Zhafif meninju dinding hingga tangannya memerah. “Awas Lo, Alev” Bisiknya tanpa melepas pandangan dari lapangan.

TAMAT

(Cerita serial ini telah dimuat juga di Harian Singgalang edisi Januari 2011
Terbit dan beredar di Sumatra barat - sekitarnya.)
---------------------------------------------------------------->>

Nah...
What do you think of...??
Beberapa teman saya bilang, kok itu gantung endingnya? Hmm hmm... anggap saja itu cara saya membangkitkan imajinasi pembaca. Biar pembaca yang menghayalkan sendiri bagaimana setelahnya.
Asyik kan...?? Hehe :)

Oh ya, Saya berencana menjadikan cerbung ini sebuah e-book (disatuin dalam sebuah file PDF). Dan rencananya juga saya akan memasukkan komentar-komentar terbaik dari pembaca di halaman akhir nya.
So, jangan sungkan-sungkan yah! Tinggalkan jejak anda!

See-Yaa!
:)

Wednesday, January 26, 2011

Junn Series #4 - Bantuan!

You Guys!
Haaaaa... resek. saya semakin eneg dengan pernikahan kami petantang-petenteng soal kelas 3 SMA. Sibuk minta ampun. Bahkan hari minggu yang jadwalnya buat istirahat aja, mesti dipake buat les.
GRRRR...
Maaf ya, kalian-para-tetangga-yang-baik...
Sampai harus menunggu sekian lama untuk posting terbaru blog ini.
(Pala lo Aul...!Siapa juga yang mau baca blog sampah Lo ini...!)

HEHE.
Tapi saya senang nih, sama comment yang satu ini,


A S Oktriwinamengatakan...
ayo lah bg aul
junn series nya please :((

HEHE...
Makasih udah nunggu :))

This is it...!!!



 Ringkasan cerita minggu lalu: Pembelaan Junn atas murid baru yang dikerjai berlebihan oleh Alev mengundang musibah besar: Ia harus buka baju, menggantikan murid baru yang dikerjai Alev.

 -----Junn Series #4 – Bantuan! ----- 

      Gerombolan penonton di lapangan masih diam, mengunci rapat bibir mereka agar tak mengeluarkan kata sepatahpun. Tak ada yang berani berkedip, apalagi bergerak. Beberapa tubuh mulai basah, bersimbah keringat dipanggang matahari dan suasana tegang yang begitu kentara.

      Junn masih berdiri termangu: menundukkan kepala tak jauh dari Alev dan kawanannya. Peristiwa beberapa menit lalu membuatnya sedikit shock, tak bisa bicara dan tak kuasa bergerak.


“Bagaimana?” Alev memecah kesunyian.

      Junn masih tak bersuara. Ia berusaha menengadahkan kepalanya, menatap Alev dengan tatapan pantang menyerah. Hal yang semakin menggetarkan hati Alev: Junn begitu berani, mengingat dia hanya junior, apalagi wanita.


      Dan peristiwa berikutnya sangat mengejutkan, membuat tak ada yang bisa menahan diri untuk tidak menjerit atau menarik nafas ketakutan. Junn menggenggam ujung bajunya, bergerak seolah-olah hendak membukanya.


“KYAAAAA...”
“Tidak... Jangan...!”
“Minta maaf saja cepaat!”


     Suasana begitu gaduh, seperti suasana unjuk rasa atau kampanye. Alev berusaha tersenyum, menikmati kemenangannya. Sebentar lagi kubalas, sebentar lagi, sebentar lagi. Pikirnya.


      Junn mulai membuka satu kancing terbawah seragamnya. Kegaduhan melenyap lagi, kembali berganti ketegangan. Beberapa murid laki-laki menutup wajahnya dengan tangan, tak kuasa menyaksikan. Dan dari tengah penonton, Riri roboh: pingsan, untung saja dipapah murid-murid wanita lainnya.
“Hentikaaaaaaann...!!!”


     Sebuah suara dari pinggir lapangan melengking panjang. Junn melirik asal suara, dan tersenyum kecut – Zhafif mengacungkan telunjuk ke arah Alev, melepaskan sweater yang menutupi mukanya – Mungkin ini yang tadi dimaksud ketua OSIS itu sebagai bantuan?


     Alev membelalakkan matanya. Jauh di lubuk hatinya ia gentar, mengingat jabatan dan kekuasaan Zhafif lebih darinya. Sayangnya, ia terlanjur emosi dan tak bisa berpikir dengan kepala dingin. Ia memanas.
“Nggak usah sok pahlawan lagi, Zhaf!”


     Zhafif mendekat, “Gue nggak sok pahlawan Lev. Tapi ini emang udah keterlaluan. Sebaiknya hentikan!”
Alev semakin panas. Ingatannya tentang berada di bawah bayang-bayang Zhafif selama ini membuatnya muak. Dan kemuakannya memuncak, “Ini urusan gue, Zhaf! Lo nggak usah ikut campur!”


     Zhafif tak menghiraukan perkataan Alev. Ia meraih lengan baju Junn, lalu menariknya. Membuat Junn terseret, berubah posisi ke belakang Zhafif.


“Gue ketua OSIS. Dan semua ini termasuk tanggung jawab gue!”
“Berhenti membanggakan diri sebagai ketua OSIS! Ini nggak ada hubungannya!”
“Ada!”
“Lo nggak bisa Zhaf!”
“Harus bisa!” Zhafif menentang.
Alev tak bisa menahan diri lagi. Sebuah pukulannya melayang, menghantam pipi kiri Zhafif. Zhafif terjatuh, lalu berdiri lagi. Ia masih bisa berpikir, untuk tidak membalas.
 

       Alev terlihat puas. Kenyataan bahwa Zhafif tak berani membalas pukulannya membuatnya merasa berada di atas angin. “Gue udah bilang Zhaf, ini bukan urusan Lo!”
“Ini juga urusan Gue!” Zhafif belum menyerah.
Alev diam, memikirkan strategi apa yang harus dilakukannya agar ia menang. Mendadak ia menyeringai, “Jadi Lo masih mau membela anak baru ini?”

“Ya”
“Kalau begitu Lo yang gantikan. Telanjang sekarang juga!”
       

      Alev semakin puas. Biarlah rencananya membalas Junn batal. Yang penting sekarang adalah ketua OSIS yang selama ini meresahkannya itu. Bila Zhafif melakukan hal yang memalukan, bukan tak mungkin semua murid akan marah dan kecewa. Dengan demikian, jabatannya akan dilepas, dan posisinya sebagai ketua OSIS bisa digantikan orang lain, termasuk dirinya!
 

      Zhafif mulai membuka seragamnya. Penonton kembali gaduh berkomentar tak karuan, walaupun tak segaduh sebelumnya. Paling tidak, Zhafif laki-laki, dan buka baju bukanlah masalah. Daripada Junn yang harus melakukannya.
 

      Saat Zhafif hendak melepas kaosnya dalamnya, sebuah suara yang berat terdengar dari mikrofon. “Alev, Zhafif dan anggota OSIS lainnya diharap segera menuju ruang OSIS sekarang juga. Ini perintah langsung dari kepala sekolah dan wakil kesiswaan!”
 

     Tak tergambarkan kelegaan yang terjadi saat Zhafif, Alev dan kawanannya meninggalkan lapangan menuju ruang OSIS. Penonton segera berhamburan ke depan lapangan, menyambut Junn. Mereka berpelukan, bertangis-tangisan dan mengucapkan selamat. Sorakan dukungan dan ucapan selamat melimpah ruah, menyirami Junn yang akhirnya bisa ikut tersenyum lega. “Alhamdulillah,” bisiknya.
 

     Siang semakin panas. Tapi Junn merasakan kesejukan, hingga ke relung hatinya. Ia yakin, Zhafif lah yang mengadukan peristiwa barusan kepada kepala sekolah dan wakil kesiswaan. Bantuan yang dijanjikan untuknya, untuk keselamatannya.
 

     Ia tersenyum lagi, saat menuju UKS melihat keadaan Riri. Dadanya berdebar-debar, mengingat apa yang telah dilakukan ketua OSIS untuknya. Ketua OSIS yang telah dua kali menyelamatkannya. Dan perasaanya meluap-luap. Ada denganku? Batinnya bingung.
(Bersambung)


*Alhamdulillah. telah dimuat di koran SINGGALANG edisi Desember 2010, terbit dan beredar di Sumatra Barat  :))

Friday, December 31, 2010

Junn Series #3 - Unpredictable MOS!

You Guys!
     Lama tidak blogging ya. Nyaris sepuluh hari!! hoho...
Maaf deh, abisnya pergi liburan ke pelosok gunung. Mau OL loadingnya parah lama banget...
Celakanya, beberapa tetangga udah "ENEGG" sama saya, gara-gara nggak kunjung update dan gak bales komentar-komentar mereka.

    Salah satu komentar yang paling berkesan buat saya nih...
JRENG... JRENGG... JREEENG....
Congratulations and Thanks to Bang Fai Si Lelaki Aneh

faimengatakan...
DUHHHHH dah khatam deh sama postingan ini, buat yang baru donggggggggggggggg
(hehe,,, nggak nyangka sampai segitunya. Jadi terharu nih, ternyata blog jelek mampus kayak punya saya ini ada juga yang mau nungguin update... :)

And, This is it! Saya post cerbung saya ( Yang Alhmd hingga sekarang masih terus dimuat di koran ). Enjoyed it!


   Ringkasan Cerita Sebelumnya: 

Junn dan Riri terlambat sekolah di hari pertama mereka. Gerombolan senior OSIS  berhasil menangkap mereka, da telah berencana mnjatuhkan hukuman. Tetapi, ketua OSIS yang baik menyelamatkan mereka.


 -----Junn Series #3 – Unpredictable MOS! -----

     “Hufftthh…” Gadis di sebelah Junn mendesah.
     “Kenapa, Ri?” Junn berkomentar sambil meniup dahinya. Empat jam pelajaran untuk Matematika dan Fisika membuat ujung jilbabnya mulai melorot.
     “Bernafaslah selagi bisa. Sebentar lagi saatnya,” Teman sebangkunya itu berkata dingin.
     Dan sebelum Junn sempat bertanya apa yang dimaksud Riri, hal itu terjadi.
     “TEEEEEEEEEETTTTTT…!!!”

     Sebuah sirine menggema ke seluruh sekolah. Suaranya dalam dan pilu ―seperti dari dunia lain― membangkitkan bulu roma siapa saja yang mendengarnya.
     “PESERTA MOS BERKUMPUL DI LAPANGAN UTAMA DENGAN AKSESORIS LENGKAP. HITUNGAN MUNDUR SAMPAI NOL DARI DUA PULUH, SEMBILAN BELAS…”
     Suara keras mike yang bersumber dari ruang OSIS itu menendang semua orang untuk segera kasak-kusuk, mengenakan aksesoris berupa kalung berhias petai, jubah kantong kresek besar, rok dedaunan, gelang dari ranting, topi karton, plus dot bayi. Menurut buku MOS, tema tahun ini adalah penyihir.Tapi, Junn merasa yang dikenakan semua siswa baru lebih mirip kostum jin atau dedemit.

     Barisan itu pun tersusun rapi saat senior berambut cepak ―Yang ingin menghukum Junn saat terlambat kemarin― menyorakkan isyarat siap. Beberapa gadis di depan Junn berbisik-bisik, bahwa senior itu yang paling galak, dan bernama Alev. Junn tersenyum geli. Nama senior itu ternyata seaneh orangnya.

     Dan hari kedua MOS itu pun berlalu sangat lama. Belasan murid baru yang menurut para senior bersalah telah mendapat jatah. Rata-rata dipermalukan dan dibuat merah mukanya. Murid laki-laki yang saat ini dikerjai Alev malah sampai menangis segala, gara-gara dipaksa buka seragam untuk memperlihatkan panu di perutnya. Sadis.

     Kalau saja Riri tidak menahan-nahannya, Junn sudah mengamuk dari tadi, tak rela menyaksikan kekejaman di hadapannya.

     Meski demikian, agaknya Alev menangkap gelagat Junn. Sebentar ia berbisik kepada rekannya, kemudian ia berbicara di balik pengeras suara. “Murid baru yang ingin menyampaikan sesuatu kepada cowok ini diberi kesempatan bicara. Ada yang mau?”

     “SAYA MAU BICARA!!” Junn berteriak dari tengah kerumunan penonton di lapangan.
Alev tersenyum simpul. Rencananya menjaring Junn berhasil. “Wah, wah… Kamu mau bicara apa gadis kecil?” Ujarnya menyindir. Dikepalanya tersusun rencana berikutnya untuk mempermalukan Junn.

     Junn semakin kesal, dan Riri tak kuasa menahannya lagi. “Hentikan semua ini, Alev! Anda sudah keterlaluan!”

     Alev sedikit terkejut. Ia tak menduga Junn ternyata lebih berani dari yang ia bayangkan. Sebentar ia berbisik lagi kepada teman-temannya. Seperti meminta dukungan. Salah satu dari mereka kemudian bersuara, “Kamu yang barusan bicara, silahkan ke depan.”

     Puluhan murid baru gaduh.  Sebagian besar mengomentari, Junn mencari perkara. Sebab, dari tahun ketahun, murid baru yang melawan senior selalu berakhir menyedihkan. Sebagian lain berkomentar ikut prihatin, dan mengharapkan Junn tabah. Ada juga yang mendukung, walaupun hanya dengan berbisik dan tak melakukan apa-apa.

     Junn melangkah ke depan. Matanya menatap lurus, menantang bara-bara silau matahari yang sedari tadi memanggang puluhan orang. Ujung jilbab di punggungnya berkibar, ditiup angin lalu. Seolah alam ingin menyemangatinya, seperti beberapa murid lain. Bahkan tanpa ada yang menyadari, secara sembunyi-sembunyi seseorang yang menutup wajahnya dengan sweater berbisik padanya, “Jangan khawatir, bantuan akan datang. Kau tak akan kenapa-napa.”

     Junn sedikit lega. Kalau telinganya tidak salah, itu suara Kak Zhafif si ketua OSIS. Semangatnya yang tadi sempat layu mendadak mekar lagi. Ia seperti musafir dehidrasi yang disiram air pegunungan. Bila Kak Zhafif yang bicara, maka ia tak perlu ragu. Bantuan akan datang, seperti bantuan yang juga pernah ia terima. Dan tak tahu kenapa, mendadak Junn merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Dan perasaanya menjadi hangat.

     Ia telah berdiri. Di hadapan semua orang, dan di hadapan Alev beserta teman-temannya. Alev kelihatan puas, bersiap-siap membalaskan kekesalannya ―yang ia simpan― saat Junn menantangnya di waktu pertemuan pertama mereka, di gerbang sekolah.

     “Nah, sekarang apa?” Alev membentak, dengan kata yang persis sama, yang pernah ditembakkan Junn langsung ke ulu hatinya.
     “Kan tadi sudah kubilang, hentikan semua ini! Lepaskan dia!”
     Alev menyeringai, “Kenapa? Kamu takut melihatnya buka baju?”
     “Apa perlu ditanya lagi?” Jun membelalakkan matanya. Beberapa suara dari penonton meletus, mendukungnya, membuat semangatnya makin mekar. “Memangnya Anda tidak takut melihatnya buka baju? Anda senang? Apa anda homo?”

     Puluhan penonton meledak, tertawa serempak. Perhitungan Alev meleset. Rencananya menggiring Junn kedepan untuk dipermalukan gagal, justru ia yang dipermalukan. Senjata makan tuan.

     Kemarahan Alev memuncak, lalu secara tak sengaja ia mengatakan sesuatu yang tak ia rencanakan sebelumnya, membuat semua suara tawa lenyap, berganti kesunyian yang mencekam dan ketegangan yang tak dapat dielakkan.

     “Kalau begitu gantikan! Kamu yang buka baju, dan Kamu akan buktikan sendiri Aku bukan homo!”

     Kedua lutut Junn lemas. Ia merasa ngeri, bila ternyata apa yang barusan didengarnya benar-benar akan terjadi. Kak Zhafif, mana bantuan yang akan datang itu? Ya Allah, bagaimana ini? Teriak Junn dalam hati.

(Bersambung)

Published on
EDISI RABU, 22 DESEMBER 2010
Terbit dan beredar di Sumatra Barat

Tuesday, August 31, 2010

Junn Series #2 – Telat!

You Guys!
Akhirnya bagian kedua selesai ditulis. [Apa Hebatnya?]
Hehe...
Nah, yang udah nunggu-nunggu kelanjutan bagian pertama silahkan berbahagia!
[Ngarep. Dilempar pake tomat...]
Hehe... selamat membaca aja deh...

Ringkasan Cerita Sebelumnya:


  Di hari pertamanya masuk SMA, Junn bertemu dengan seorang gadis berjilbab sebayanya, Riri. Pertemuan yang begitu mendadak dan peristiwa yang menimpanya tepat di hari pertama sekolah membuat Riri merasa nyaman berteman dengan Junn. Saat sampai di depan sekolah, tiba-tiba terdengar bunyi keras...



-----Junn Series #2 – Telat!-----


    Suara gerbang digeser.
    “Cepat Junn, gerbangnya mau ditutup!” ujar Riri dengan raut wajah cemas. Ia mencoba melangkah lebih cepat walaupun sedang dipapah.
    “Udah, jangan dipikirin. Kaki kamu lebih penting, Ri!”
    Riri terdiam. Junn ada benarnya. Lututnya terasa berdenyut-denyut, perih sekali. “Kalau gitu kamu masuk duluan deh! Nanti Aku nyusul.”
    Junn terbelalak, “Dan kamu dihukum sendirian karena terlambat? Sori deh, Aku nggak sejahat itu, Ri!” Ujarnya tegas. “Kita akan masuk bersama. Dan jangan bilang apa-apa lagi!”


    Riri kembali terdiam. Sejumput kagum bertunas di dataran hatinya. Embun sejuk bagaikan memancar membasahi ranting jiwanya yang kering, dari sosok Junn, orang yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Ia sampai tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang sebaik Junn.

    Dan seperti yang telah mereka duga, gerbang telah ditutup. Segerombolan laki-laki tinggi berpakaian putih abu-abu dengan ikat kepala merah putih, dan kartu tanda pengenal terkalung  di leher – Yang sudah pasti senior dari OSIS – berdiri di balik gerbang. Seolah-olah, mereka memang menunggu – Sesuatu semacam makanan, bila mereka sekawanan singa – dan Junn yakin mereka mengincar dirinya dan Riri, murid baru yang terlambat di hari pertama.

    Tiga meter menjelang sampai di gerbang, senior-senior itu bertepuk tangan. Beberapa di antaranya bersuit-suit sambil melepas ikat kepalanya dan melambaikannya, seolah Junn dan Riri adalah pembalap yang mencapai garis finish.

    “Selamat! Kalian berhasil!” senior yang memakai kacamata berteriak, disambut suit-suit dari teman-temannya.
    “Berhasil apa?” Junn bertanya dengan sedikit berteriak, intonasi menantang.
Riri kaget, dengan situasi seperti ini, bisa-bisanya Junn bertingkah seperti itu? “Juunn! Jangan gitu! Nanti mereka marah!” bisiknya.

    Dan Riri salah, senior-senior itu malah saling berpandangan dan tertawa. “Bagus, bagus. Sudah terlambat, masih berani menantang?”
    Senior yang berambut cepak menyeringai, “Heh, anak baru! Sudah salah masih belagu! Cepat ke sini!”
    “Kenapa kau terlambat, hah!? Bukankah peraturannya sudah tercantum di buku panduan MOS?” Senior yang lain membentak.

    Junn melepaskan cengkeramannya pada pangkal lengan Riri, “Maaf, senior yang terhormat. Tapi teman saya ini baru saja kecelakaan. Kakinya terluka! Bisa tolong bawa dia ke UKS dulu? Atau kemana saja dimana dia bisa diobati dan beristirahat? Daripada anda semua meributkan masalah sepele?”

    Salah satu dari mereka, laki-laki berwajah teduh yang kelihatan paling berkuasa, berbisik. Dan tiga orang di antara mereka segera ke dalam bangunan sekolah. Tak lama mereka keluar, menenteng tandu. Mereka mendekati Junn, dan setelah Ia membaringkan Riri di atas tandu, Junn berbisik, “Baik-baik, Ri.”
    Riri mengangguk. Dan tandu itu digotong ke dalam sekolah. Ke UKS mungkin.

    “Nah, sekarang apa?” Junn berdiri menghadap gerombolan senior yang tersisa.
    Senior yang berambut cepak menyeringai, “Kau harus dihukum, tentu saja. Kau tahu kan, kesalahan yang kau buat? Terlambat di hari pertama. Dan jika kau membaca buku panduan MOS-mu maka kau akan tahu sangsi apa yang harus kau terima: Hormat kepada bendera merah putih satu jam lima belas menit tanpa istirahat!”

    Junn sedikit bergidik. Ia sudah membaca buku itu, dan ia juga tahu tentang hukuman itu – yang menurutnya tak punya hubungan dengan sebuah keterlambatan – dan sekarang ia sedikit khawatir harus melaksanakannya, mengingat betapa cerahnya langit. Tapi ia tetap memperlihatkan wajah yang tak gentar, yang paling tidak menumbuhkan sedikit keberanian di dalam dirinya.

    “Tidak, tidak…” senior yang berwajah teduh tadi angkat suara. “Menimbang alasan masuk akal yang bisa kita baca dari keterlambatan ini, maka sebagai ketua OSIS aku putuskan kau boleh masuk tanpa hukuman.”
Musim semi. Tidak jadi dihukum? Junn tersenyum dalam hati. Tapi ia belum bisa bernafas lega, sebab senior yang berambut cepak itu kelihatannya masih bernafsu menjatuhinya hukuman.

    “Zhaf, Lo nggak bisa gitu dong! Yang bersalah harus dihukum!”
    Senior yang dipanggil Zhaf menjawab dengan tenang, “Bisa. Gue ketua OSIS”

    Junn tersenyum. Oh, jadi ini yang namanya Zhafif itu. Yang di buku MOS tertulis menjabat sebagai ketua OSIS.

    WOW. Seorang ketua OSIS membela murid baru! Wahhh…! Dalam hatinya ia berteriak salut. Tapi dia tetap memperlihatkan wajah seriusnya, agar senior berambut cepak itu tak tahu betapa senangnya ia.

    “Tapi, Zhaf! Peraturan tetap peraturan!” Dia masih belum puas.
    Zhafif menggeleng lagi, “Dan peraturan tetap punya dispensasi untuk alasan yang masuk akal.”

    Senior berambut cepak itu mati kata. Dengan sedikit dengusan kesal ia menjauh, menuju barisan murid baru yang sudah dari tadi bersiap untuk upacara bendera.

    “Mau berdiri di sana sampai kapan?” Zhafif menyapa.
    “Oh, Ya. Makasih Kak. Saya masuk dulu” Ujar Junn sambil melangkah memasuki gerbang sambil nyengir. Kalau nanti kuceritakan pada Riri, pasti dia tak akan percaya. Junn membatin.

    Pagi semakin cerah. Gumpalan putih di birunya langit berarak sangat pelan, membiarkan dirinya dipanggang matahari. Udara mulai terasa hangat, sehangat perasaan Junn saat memasuki barisan upacara.

[BERSAMBUNG]

Friday, July 30, 2010

Junn Series #1 – Pertemuan dengan teman baru

 You Guys...
Sebenarnya saya belum terlalu berani posting tulisan sembarangan...
Coz masih takut pembajakan...
Hoho... Tapi, berhubung ini bakal dijadikan cerita serial, jadi saya rasa kalo ada yang mau membajak, dia/mereka tidak akan bisa berkutik, coz gak tau kelanjutan cerita aslinya gimana. [LOL]
Hehe. Met baca deh....

-----Junn Series #1 – Pertemuan dengan teman baru-----

 “Junn! Udah setengah tujuh!”
     “Iya, ma. Bentar!” Junn menyahut sambil mengikat tali sepatunya. Dengan gesit, ia berlari ke arah garasi. Saat melewati meja makan, masih sempat mencomot roti selai stroberi yang sejak tadi di siapkan mama.
     “Pergi dulu ma, Assalamualaikum!” Ujarnya sambil mengecup pipi dan tangan mamanya, kemudian masuk ke mobil. Tanpa menunggu, Papa menyalakan mobil dan menjauh.

     Indahnya pagi di kota padang. Langit masih pucat. Matahari masih mendengkur berselimut awan di langit timur. Seberkas cahayanya yang luput terselimut menyembul, berusaha menampakkan keindahannya walaupun samar, membekas berupa bias.

     Udara masih sejuk, belum terkontaminasi oleh debu dan asap-asap kendaraan. Suara burung masih terdengar, walaupun semakin lemah seiring semakin merang
kaknya jarum menit. Rumput-rumput dan pohon-pohon masih segar. Kadangkala masih terlihat ujung-ujungnya berkilau-kilau, karena cahaya menembus butiran embun.

     Tanpa sadar, Junn tersenyum sendiri. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah setengah bulan lalu kelulusannya di SMP. Dan ternyata, Mama serta Papanya telah mendaftarkannya ke sebuah SMA di padang. Mulanya ia kaget saat mengetahuinya. Gila, sekolah di Padang! Kota yang amat jauh dari rumahnya, Jambi!

     Yah, walaupun sudah 15 tahun, ia tetap merasa sulit untuk jauh dari orang tuanya. Ia merasa masih belum cukup mandiri untuk hidup sendiri di usianya itu. Apalagi ia adalah seorang anak perempuan. Apa Papa dan Mama tidak berpikir betapa bahanya anak perempuan sendirian di kota besar?  Namun, ternyata ia salah mengira, sebab ternyata orangtuanya juga telah lama merencanakan pindah rumah ke Padang. Terbukti dengan telah selesainya rumah baru mereka beberapa bulan yang lalu. Artinya, Junn tak perlu khawatir.

     Yang mungkin menjadi sedikit masalah ialah, ia harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya di Jambi. Walaupun  hanya berlangsung tiga tahun selama masa SMP, tapi Junn merasa sudah terlalu dekat dengan mereka, bahkan rasanya sudah seperti saudara. Karenanya, ia merasa sedikit sedih. Yah, paling tidak ia masih bisa berkirim email dengan mereka.

     Masalah lainnya ialah, ia baru pindah ke Padang 2 hari yang lalu dan langsung masuk sekolah hari ini. Otomatis ia belum punya teman. Sebenarnya tak masalah, karena ia tipe anak yang mudah bergaul. Sayangnya, ia merasa sedikit gugup bila berada di suatu tempat tanpa kenal dengan seorangpun.
     “Ciit…Ciiit!!”
     “BRAKK!!!”
     Junn kaget. “Ada apa, Pa?”
     “Ada tabrakan,”
     Junn membuka jendela mobil. Sebuah angkot berhenti di atas sebuah trotoar. Bagian depannya penyok, menempel di sebuah tiang iklan.

     Terdengar bunyi ribut dari penumpangnya. Mereka keluar dari angkot sambil mengomel. Beberapa orang mengeluh dan mengaduh. Ada yang kaget, ada yang shok. Anak kecil yang digendong ibunya malah sampai menangis histeris. Tampaknya tak ada yang terluka. Hanya kecelakaan kecil saja.

     Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seorang gadis berjilbab lebar dan berseragam putih abu-abu seperti dirinya, yang berdiri mengaduh sambil memegangi lututnya. Roknya robek di bagian itu, dan samar-samar kelihatan bernoda darah.

     “Astaghfirullah Alazim!” bisiknya sambil membuka pintu mobilnya. Sebentar ia meraih lengan gadis itu dan membantunya masuk ke mobil.
     “Pa, minta obat merahnya!” Ujar nya cepat. Dari laci kecil di sebelah setir, Papanya mengeluarkan obat merah beserta kapas, dan menyerahkannya pada Junn.
     Dengan cekatan ia membersihkan luka gadis itu, kemudian mengobatinya dengan obat merah. Ternyata pengalamannnya mengikuti ekstra kurikuler Palang Merah Remaja banyak juga gunanya.
     “Ouhh…” Gadis itu meringis sambil berusaha menahan perih.
     “Maaf, sakit ya?” Tanya Jun sambil meniup-niup lutut gadis itu. “Namanya siapa?”
     “Riri…”
     “Aku Junn. Nah, lukamu sudah diobati, mungkin nanti siang sudah kering. Eh, kamu sekolah di mana, Ri? Biar aku antar,”
     “Aku… Aku sekolah di SMA Bunga Bangsa,”
     “Wah, sama. Kalo gitu kita berangkat bareng aja,”
     Riri mengangguk, sambil mengucapkan terima kasih.
    Sepanjang jalan,Junn bercakap-cakap dengan Riri. Tentang Bangunan-bangunan di pinggir jalan, tentang alamat masing-masing, malah saling tukar nomor Handphone segala. Dan ternyata Riri juga baru masuk kelas sepuluh, sama seperti dirinya.

     “Pergi dulu, Pa. Assalamu’alaikum,”
     “Pergi dulu, Pak. Assalamu’alaikum,”
     “Wa ‘alaikum Salam. Hati-hati lukanya, Ri.” Ujar Papa Junn, dan mobil kijang hitam itu pun perlahan menjauh.
    Junn merangkul lengan Riri, membantunya melangkah. Luka memar di lututnya membuat jalannya sedikit pincang.
    “Ayo, Ri. Nggak usah terburu-buru. Nanti lukanya tambah sakit”
    “GREEEKKK!!!!!” Terdengar sebuah bunyi nyaring. Junn dan Riri terperanjat.



[BERSAMBUNG]

My Ping in TotalPing.com
submitgooglesitemap.com Sitemap Generator