HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

Showing posts with label Melankolis. Show all posts
Showing posts with label Melankolis. Show all posts

Monday, March 26, 2012

Biar Getir Mengalir [bersama butir-butir air]

source
      Kau tahu. Kadang pelangi tak selalu bersama ketujuh warnanya--setidaknya [di setiap] ketika hujan telah lelah turun-- dan menghilangkan gundah ratusan pasang mata di belakang jendela-jendela. Ya. Kadang ia kehilangan biru di antara mega-mega kelabu yang riang melayang-layang di celah-celah langit sore [pun terkadang ia mencari-cari keberadaan ungu] di antara butir-butir air. Lalu getir, merasa ada yang berbeda [tak seperti biasanya] ia tak tahu.
     Kau lihat. bumi yang bulat masih ingin dibasahi, kala seniman-seniman jejak di jalan-jalan setapak bersorak--berharap tetes demi tetes rindu dari langit berhenti membuat riak [di genangan-genangan cinta. terabaikan. begitu saja] mengaharu biru dalam ragu. Andai waktu [bisa dibalik] bagai lembar-lembar dalam buku,  tentu aku [dan kamu] bisa tahu lebih dulu. Lalu getir, biar saja mengalir.

Sunday, February 26, 2012

Ini Terlampau Sering Terjadi, Kan?


      Ini terlampau sering terjadi, kan? Kala jemariku menggenggam erat roti tawar bertabur rindu di kedua sisinya namun benakku mendamba pizza dengan saos tomat dan kacang dengan parutan cinta; di sela-sela duka panggang setengah matang. Kehendak akan yang mustahil direngkuh, sementara punya yang bisa didekap erat..


Monday, January 30, 2012

Langit Merindu Rindu

Oleh : Aul Howler

Pic from here
 
         Mungkin aku terdengar konyol saat bibirku bergetar [bagai senar yang melintangi gitar] membualkan kerinduan langit akan tetes-tetes haru dari mata-mata pelahap cinta seperti aku dianggap konyol kala mendeklamasikan puisi duka dengan mawar merah dan kue coklat bentuk hati. Tapi sungguh, tiada maksud terselubung atau pukulan tersembunyi dalam kisahku akan langit merindu itu. Percayalah.
         Karena hampir semua rindu telah kau jaring untuk dirimu sendiri dalam keegoisan [kurasa begitu] tanpa peduli ada yang lain yang mendambakannya layaknya gurun mendambakan genangan sejuk oasis atau pemburu yang telah lelah menenteng senapan angin dan tak kunjung menyaksikan auman beruang liar di hutan-hutan pegunungan. [Setidaknya] bagi lah sedikit: Lepaskan beberapa jumput untuk gurun dan pemburu itu. atau untukku, bila kau mau?

Sunday, January 22, 2012

Cepatlah Pulang!

 Oleh : Aul Howler

picture from Google

Aku tak sabar. Melihat helai-helai rambut mu bergoyang-goyang dijilat angin manakala kau berlari meninggalkan kenyataandan mengejarku membawa serta sekeranjang rindu dan biji-biji harapan yang nanti akan kita tanam bersama di taman haru. Lalu kau akan memanggil nama kesayanganku dengan tawa lega layaknya tersangka yang tak jadi disandra saat akumelambai beberapa kaki dari tempatmu berpijak. Itu pasti menyenangkan, kau tahu.

Sunday, September 25, 2011

Menunggu: Aku Tak Suka Itu

Soo Bussy.
I'll post something in my journals soon.
Now, whut about a poem?

 Menunggu: Aku Tak Suka Itu



         Kau bilang hendak memberiku kunci untuk membuka gerbang di langit waktu depan kita. Dan kau berjanji akan terbang ke sana, bersamaku, membawa serta relief-relief cinta yang kita ukir bersama dalam rindu, resah, haru dan gundah gelisah. Tapi hingga lumut bersarang di dahan terakhir tempatku bertengger dan aku menggigil digigiti dingin: Kau tak datang. Pun aku menunggu dengan sabar. Aku tak suka itu, kau tahu. dimana kau?
        Kau berkata pasti datang secepat kilat yang menyambar menara tua di ladang tempo hari, dengan gaun seperti tuan putri zaman edo di zaman sejarah Tokyo. Kita akan menapaki jalan berbatu dan berpasir itu lalu terbang tinggi, bersama, seperti layaknya sepasang burung hantu, bergerak perlahan dalam keanggunan. Demikian kata terakhirmu. Tapi hingga kini aku masih sendiri, di sini. Menunggu: aku tak suka itu, kau tahu.

Kau takut? Kau kehilangan rona percaya diri?
        Kau meyakinkanku kala itu, bahwa sayapmu ada untuk mengepak bersama sayapku: Bahwa kita saling melengkapi tak ubahnya awan dan hujan. Kini aku menunggu, pun kau tak kunjung datang. Aku tak suka itu, kau tahu. Tak jadikah kau ke sini? apa kau akhirnya bimbang memilih?

Wednesday, June 1, 2011

Sayap-Sayap Peri

Long time no write poems (puisi).
Since last April right? Sooo, I think it's better if i post some (or one) now in this my home sweet home.
Enjoy! :)


Sayap-Sayap Peri

       Waktu itu kau dan senyummu menceritakan aku sebuah dongeng tentang sayap-sayap peri yang berkilauan yang mengepak-ngepak bersama kebahagiaan di setiap pendar cahayanya. Lalu kau membual tentang sayap-sayap yang sama padaku -- di punggungku yang mungil ; Membuatku tertawa bahagia bersama angin senja kala burung-burung kenari pulang ke sarang membawa biji di paruhnya untuk telur-telurnya yang esok menetas.

      Kau bilang padaku, saat aku mengepak terbang rendah di atas rumpun-rumpun dandelion aku menerbangkan parasut-parasut mereka ke udara. Kau pun bilang setiap kepakan ku membuat padang rumput yang kulewati berkilau juga, membuat belalang dan kunang-kunang kehilangan pesona yang telah mereka tebarkan di setiap lembar dedaunan dan ujung-ujung dahan kering kerontang semenjak pagi masih buta. Aku tak yakin, sedikitpun.
      Bilamana jemarimu mengusap punggungku penuh kasih oh ibu, kehangatan menjalar-jalar liar serasa setiap jejak jemarimu terbakar, dan aku merasa benar-benar akan mencuat sepasang sayap peri di punggungku, dan mengepak-ngepak seperti ceritamu kala itu. Apakah benar kan kudapat sayap-sayap peri itu? Ataukah itu hanya sayang yang kau buang di telingaku untuk mengantarku tidur dan berlari-lari segera ke dalam mimpi-mimpiku?

Padang, June 1st 2011

Sunday, March 6, 2011

Dalam Keremangan Cinta

Sebuah Puisi berjudul:
Dalam Keremangan Cinta


Aku tersesat...
Dalam jalan penuh tikung dan simpang, dan belok-belok tajam dan tanjakan dan turunan. Jalan-jalan cinta.
Aku tersangkut...
Dalam dahan-dahan yang tak yakin, dan cabang tak pasti dan ranting-ranting meruncing meragu, dan akar-akar bimbang. Benih-benih cinta.
Aku terjebak...
Dalam sarang licin berdebu, dan keramba-keramba layu, dan sangkar-sangkar kayu merindu, dan cangkang-cangkang berbulu penuh batu. Jaring-jaring cinta.
Aku hilang arah...
Dalam gunung cemburu yang ringkih, dan berlumut, dan belantara rindu berselimut kabut, dan gurun dusta memerih.
Dalam bayang-bayang cinta...
Dalam keremangan cinta...

Friday, February 11, 2011

TAWA MALAM SANG PENYAIR

Sebuah Puisi (atau sampah bagi anda? Karna sejujurnya saya tidak yakin coretan yg saya tulis sebelum tidur beberapa hari yang lalu ini adalah sebuah puisi :))


TAWA MALAM SANG PENYAIR

Senja berdarah...
Nyawa-nyawa gembira meletus bersama balon-balon ulang tahun penyair tempo hari.
Duduk memangku tangan dan lamunan yang berterbangan dalam terang bagai kunang-kunang.
Hahaha. Sang penyair tertawa dalam suka dan perutnya bergolakmenggempa di beranda pondok berderak-derak.

My Ping in TotalPing.com
submitgooglesitemap.com Sitemap Generator