HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

HOME IDEA

My Collection Review Home Decorating.

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, April 19, 2012

Senja Menangis



source

Mulanya, pilu.

Garis-garis langit memerah dalam sendu.
Lalu pilu.
Bumi merintih-rintih dalam kelu.
dan pilu.
Senja basah dalam haru.
pilu


Monday, March 26, 2012

Biar Getir Mengalir [bersama butir-butir air]

source
      Kau tahu. Kadang pelangi tak selalu bersama ketujuh warnanya--setidaknya [di setiap] ketika hujan telah lelah turun-- dan menghilangkan gundah ratusan pasang mata di belakang jendela-jendela. Ya. Kadang ia kehilangan biru di antara mega-mega kelabu yang riang melayang-layang di celah-celah langit sore [pun terkadang ia mencari-cari keberadaan ungu] di antara butir-butir air. Lalu getir, merasa ada yang berbeda [tak seperti biasanya] ia tak tahu.
     Kau lihat. bumi yang bulat masih ingin dibasahi, kala seniman-seniman jejak di jalan-jalan setapak bersorak--berharap tetes demi tetes rindu dari langit berhenti membuat riak [di genangan-genangan cinta. terabaikan. begitu saja] mengaharu biru dalam ragu. Andai waktu [bisa dibalik] bagai lembar-lembar dalam buku,  tentu aku [dan kamu] bisa tahu lebih dulu. Lalu getir, biar saja mengalir.

Sunday, February 26, 2012

Ini Terlampau Sering Terjadi, Kan?


      Ini terlampau sering terjadi, kan? Kala jemariku menggenggam erat roti tawar bertabur rindu di kedua sisinya namun benakku mendamba pizza dengan saos tomat dan kacang dengan parutan cinta; di sela-sela duka panggang setengah matang. Kehendak akan yang mustahil direngkuh, sementara punya yang bisa didekap erat..


Monday, January 30, 2012

Langit Merindu Rindu

Oleh : Aul Howler

Pic from here
 
         Mungkin aku terdengar konyol saat bibirku bergetar [bagai senar yang melintangi gitar] membualkan kerinduan langit akan tetes-tetes haru dari mata-mata pelahap cinta seperti aku dianggap konyol kala mendeklamasikan puisi duka dengan mawar merah dan kue coklat bentuk hati. Tapi sungguh, tiada maksud terselubung atau pukulan tersembunyi dalam kisahku akan langit merindu itu. Percayalah.
         Karena hampir semua rindu telah kau jaring untuk dirimu sendiri dalam keegoisan [kurasa begitu] tanpa peduli ada yang lain yang mendambakannya layaknya gurun mendambakan genangan sejuk oasis atau pemburu yang telah lelah menenteng senapan angin dan tak kunjung menyaksikan auman beruang liar di hutan-hutan pegunungan. [Setidaknya] bagi lah sedikit: Lepaskan beberapa jumput untuk gurun dan pemburu itu. atau untukku, bila kau mau?

Sunday, January 22, 2012

Cepatlah Pulang!

 Oleh : Aul Howler

picture from Google

Aku tak sabar. Melihat helai-helai rambut mu bergoyang-goyang dijilat angin manakala kau berlari meninggalkan kenyataandan mengejarku membawa serta sekeranjang rindu dan biji-biji harapan yang nanti akan kita tanam bersama di taman haru. Lalu kau akan memanggil nama kesayanganku dengan tawa lega layaknya tersangka yang tak jadi disandra saat akumelambai beberapa kaki dari tempatmu berpijak. Itu pasti menyenangkan, kau tahu.

Sunday, September 25, 2011

Menunggu: Aku Tak Suka Itu

Soo Bussy.
I'll post something in my journals soon.
Now, whut about a poem?

 Menunggu: Aku Tak Suka Itu



         Kau bilang hendak memberiku kunci untuk membuka gerbang di langit waktu depan kita. Dan kau berjanji akan terbang ke sana, bersamaku, membawa serta relief-relief cinta yang kita ukir bersama dalam rindu, resah, haru dan gundah gelisah. Tapi hingga lumut bersarang di dahan terakhir tempatku bertengger dan aku menggigil digigiti dingin: Kau tak datang. Pun aku menunggu dengan sabar. Aku tak suka itu, kau tahu. dimana kau?
        Kau berkata pasti datang secepat kilat yang menyambar menara tua di ladang tempo hari, dengan gaun seperti tuan putri zaman edo di zaman sejarah Tokyo. Kita akan menapaki jalan berbatu dan berpasir itu lalu terbang tinggi, bersama, seperti layaknya sepasang burung hantu, bergerak perlahan dalam keanggunan. Demikian kata terakhirmu. Tapi hingga kini aku masih sendiri, di sini. Menunggu: aku tak suka itu, kau tahu.

Kau takut? Kau kehilangan rona percaya diri?
        Kau meyakinkanku kala itu, bahwa sayapmu ada untuk mengepak bersama sayapku: Bahwa kita saling melengkapi tak ubahnya awan dan hujan. Kini aku menunggu, pun kau tak kunjung datang. Aku tak suka itu, kau tahu. Tak jadikah kau ke sini? apa kau akhirnya bimbang memilih?

Wednesday, June 1, 2011

Sayap-Sayap Peri

Long time no write poems (puisi).
Since last April right? Sooo, I think it's better if i post some (or one) now in this my home sweet home.
Enjoy! :)


Sayap-Sayap Peri

       Waktu itu kau dan senyummu menceritakan aku sebuah dongeng tentang sayap-sayap peri yang berkilauan yang mengepak-ngepak bersama kebahagiaan di setiap pendar cahayanya. Lalu kau membual tentang sayap-sayap yang sama padaku -- di punggungku yang mungil ; Membuatku tertawa bahagia bersama angin senja kala burung-burung kenari pulang ke sarang membawa biji di paruhnya untuk telur-telurnya yang esok menetas.

      Kau bilang padaku, saat aku mengepak terbang rendah di atas rumpun-rumpun dandelion aku menerbangkan parasut-parasut mereka ke udara. Kau pun bilang setiap kepakan ku membuat padang rumput yang kulewati berkilau juga, membuat belalang dan kunang-kunang kehilangan pesona yang telah mereka tebarkan di setiap lembar dedaunan dan ujung-ujung dahan kering kerontang semenjak pagi masih buta. Aku tak yakin, sedikitpun.
      Bilamana jemarimu mengusap punggungku penuh kasih oh ibu, kehangatan menjalar-jalar liar serasa setiap jejak jemarimu terbakar, dan aku merasa benar-benar akan mencuat sepasang sayap peri di punggungku, dan mengepak-ngepak seperti ceritamu kala itu. Apakah benar kan kudapat sayap-sayap peri itu? Ataukah itu hanya sayang yang kau buang di telingaku untuk mengantarku tidur dan berlari-lari segera ke dalam mimpi-mimpiku?

Padang, June 1st 2011

Friday, April 15, 2011

Examination



Sebuah Puisi, berjudul

Examination

Hanya beberapa helai, kawanku...
Bernoda huruf dan angka dan gambar dan simbol-simbol...
Apa hebatnya?
Ya, menghajar hingga nanar...
Ya, menusuk hingga remuk...
Ya, menggigit sungguh sakit...
Hingga tak berdaya bangkit...


Hanya beberapa ilmu, kawanku...
Berhitung dan mengeja dan menerka dan mengira...
Apa hebatnya?
Ya, memiting hingga pusing...
Ya, menampar hingga terkapar...
Ya, mengiris membuat meringis...
Hingga jatuh segala tangis...


Hanya itu, kawanku...
Tak lebih...
Lindungi dan lawan dengan apa...?
Perisai... Tameng... Pedang... Parang...!!?
Tidak...
Cukup dengan buku dan doa saja...
Percaya...??


P.S
Anyway, beberapa hari yang lalu di jam pelajaran bimbingan dan konseling, guru saya memberi instruksi untuk membuat gambar tentang perasaan kita terhadap UN. Dan saya membuat coretan di bawah ini:


Ibaratnya, yang naik sapu itu saya (virus Harpot tak bisa hilang :). Dan UN itu menghantui, mengejar-ngejar, membuat saya tidak nyaman... Belum lagi BELAJAR yang terus menerus (terpaksa) menyambar-nyambar. Kalau saya malas atau menyerah lalu melompat, bakal hanyut atau tenggelam.
SOO, I'M TRAPPED.
Eh, ini lucu juga kalau dibuat bergerak (Sayangnya cuma 1 gambar yg di shoot dari banyak angle)

Photobucket


Sekian Update menjelang UN. DUA HARI LAGI!!!
Do'akan saya....!!
LULUS!
-Amin-

Follow Me On Twitter 

Sunday, March 6, 2011

Dalam Keremangan Cinta

Sebuah Puisi berjudul:
Dalam Keremangan Cinta


Aku tersesat...
Dalam jalan penuh tikung dan simpang, dan belok-belok tajam dan tanjakan dan turunan. Jalan-jalan cinta.
Aku tersangkut...
Dalam dahan-dahan yang tak yakin, dan cabang tak pasti dan ranting-ranting meruncing meragu, dan akar-akar bimbang. Benih-benih cinta.
Aku terjebak...
Dalam sarang licin berdebu, dan keramba-keramba layu, dan sangkar-sangkar kayu merindu, dan cangkang-cangkang berbulu penuh batu. Jaring-jaring cinta.
Aku hilang arah...
Dalam gunung cemburu yang ringkih, dan berlumut, dan belantara rindu berselimut kabut, dan gurun dusta memerih.
Dalam bayang-bayang cinta...
Dalam keremangan cinta...

Friday, February 11, 2011

TAWA MALAM SANG PENYAIR

Sebuah Puisi (atau sampah bagi anda? Karna sejujurnya saya tidak yakin coretan yg saya tulis sebelum tidur beberapa hari yang lalu ini adalah sebuah puisi :))


TAWA MALAM SANG PENYAIR

Senja berdarah...
Nyawa-nyawa gembira meletus bersama balon-balon ulang tahun penyair tempo hari.
Duduk memangku tangan dan lamunan yang berterbangan dalam terang bagai kunang-kunang.
Hahaha. Sang penyair tertawa dalam suka dan perutnya bergolakmenggempa di beranda pondok berderak-derak.

Saturday, January 15, 2011

Gundah

Apa mesti aku torehkan,
Gundah nan gelisah dalam pangkuan?
Atau dilepas saja dengan jeritan, biar menghujan?
Dan mengalir bersama sedu sedan?

Apa mesti aku bagi,
Gundah nan resah dalam genggam jemari?
Apa perlu ditangisi, biar sepi?
Biar mati bersama sunyi? 
...

Sunday, December 19, 2010

Dia Sudah Lari!

Hi there!
Puisi ini saya tulis sebagai ungkapan kelegaan saya setelah ujian nih. Udah lama juga tiada menulis puisi, jadi rindu :)
Enjoyed it!

Dia Sudah Lari!


Dalam cekaman gelap...
Dingin di hadapku, mendekap...
Ah, langit mulai sedikit cerah...
Ayo keluar, Ayah...!
Badai sudah mulai pergi...
Dia sudah lari...!


Indahnya bumi, berpayung pelangi...
Busur cahaya melengkung di bawah mentari...
Keremangan cinta menjelas lagi...
Keheningan rindu meribut lagi...
Badai sudah pergi...
Dia sudah lari!


Tiada lagi raga menggigil, takut...
Lega, tanpa setetes pun kalut...
Lihat Ibu! Rumput di sana berkilau!
Bersolek ditimpa cahaya silau...
Lihat Ibu! Badai jauh pergi...
Dia sudah lari!


Ahh... muncul juga cahaya keperakan itu!
Ayo sini, hangatkan lagi aku...
Ahh... Angin sore pun berhembus mesra...
Ayo sini, tiup kesedihan yang tersisa...
Badai semakin jauh pergi...
Dia sudah lari!

Thursday, October 28, 2010

Menanti Pagi

Hi everyone!
How're you all? Fine, eh?
I hope so... :)
Wanna post a poem right now...


Sebuah Puisi berjudul:
Menanti Pagi

 
Bulan sabit murung…
Bintang gemintang bingung…
Malam berlari menyeret janji …
Menjejakkan syahdu, menyepi…
Pohon, rumput dan ujungnya nan berkilau…
Menari dalam hijau…




Cinta putik nan tersembunyi…
Mekar mengantar benang sari…
Cahaya perak tersenyum berserakan…
Di kaki langit nan kemerahan…
Surya nan malu, berselimut…
Rindu-rindu tersaput kabut…


  Disini aku, memeluk kata…
Mencium, menikmati udara…
Dan disini aku, berdiri tanpa kaki...
Menyendiri, menanti pagi…




Alhmd, Puisi ini telah dimuat juga dimuat di koran Singgalang edisi Rabu, 27 oktober 2010. Beredar di Sumatra Barat Dan sekitarnya.

Saturday, September 25, 2010

Dimuat! Fotografi dan Puisi

Aslm...

Duh... senangnya...
Ternyata apa yang "Dad" bilang, bahwa kalo karya kita berhasil tembus koran sekali, maka bakal gampang buat tembus dan tembus lagi...
[Heyy, ini bukan soal tembus pake pembalut lho..!!! BUKAN!]

Nah, jadi untuk minggu ini ada 2 karya saya yang dimuat...
Masih di koran "SINGGALANG", koran nasional Sumatra Barat. Beredar di seumatra barat dan sekitarnya.

Dan karya tersebut diantaranya:

1. Nih dia...
Salah satu foto hasil hunting di suatu sore...
Yang menurut saya lumayan juga dikirim...
Bagi pembaca yang mau lihat foto-foto karya saya yang lain Klik aja di sini...


2. Dan karya selanjutnya berupa puisi religi... (Islam)
Jangan kaget, kalo puisinya itu BIASA BANGET.
Kenapa? Karena saya juga orang biasa Karena puisi tersebut adalah tugas bahasa indonesia yang saya kerjakan dua puluh dua tahun lalu. Waktu baru masuk SMA...
(Sekarang udah kelas XII IPA lho...)
Hoho, jadi maaf kalo saya terlambat membalas komentar2 teman-teman semua...
Maklum mau UN, cuman bisa online2-4 kali seminggu.... :)

screenshot beserta isinya:



 TUHAN
 
Tuhan…
Letih… lelah… Jenuh…
Sombong… pongah… angkuh…
Hamba jenuh untuk acuh…
Namun kenapa angkuh untuk bersimpuh…?


Tuhan…
Amat mudah dosa itu tumbuh…
Kenapa ia sukar untuk rubuh…?
Amat mudah amalan itu keruh…
Kenapa sukar untuk jernih dan kembali utuh…?

Tuhan…
Saat ini… di tempat ini…
Di bumi yang penuh telapak pendosa ini…
 Diri hina ini menyesali setiap tingkah…
Memohon ampun atas setiap perbuatan salah…
 
Tuhan…
Satu hal keinginan hamba-Mu…
Satu hal harapan hamba-Mu…
Satu hal permohonan hamba-Mu…
Ampunan penuh kasih sayang dari–Mu…
 


Nah, sekian dulu...
Aslm...


Monday, August 9, 2010

Bersembunyi: Rahasia Kecil Itu

~Hi everyone... ~
 Wow, long time no post Poem...
Yeah, Toshibii's loading is so long...
(Hoho. Sorry Tshibii-kun!)

This is it...
Sebuah Puisi berjudul:

Bersembunyi: Rahasia Kecil Itu

Antara dua kejap...
Antara dua dekap...
Antara dua hendak...
Antara dua telapak...
Di situ ada sesuatu,
Bersembunyi: rahasia kecil itu...


Antara dahan dan ruas daun...
Antara kaktus dan tanah gurun...
Antara langit dan matahari...
Antara cincin dan jemari...
Di situ ada sesuatu,
Bersembunyi: rahasia kecil itu...


Ya, sejumput rahasia di sana...
Tertutup, semak berumput-rumput...
Ya, selembar rahasia di sana...
Terselip, di buku berhalaman butut...
Ya, sebutir rahasia di sana...
Tersangkut, di dahan-dahan berlumut...

Itu rahasia, menyilau disorot mata...
Mata legam, mencahayakan ingin tahu terpendam...
Itu rahasia, mendenging dibisiki telinga...
Telinga nan kecoklatan, mendengarkan nada penarasan...
Itu rahasia, lembut halus teraba...
Kulit nan ringkih, mengusap misteri dalam pedih... 


Antara dua kejap...
Antara dua dekap...
Antara dua hendak...
Antara dua telapak...
Di situ ada sesuatu,
Bersembunyi: rahasia kecil itu...

Saturday, July 17, 2010

Tap...Tap... Tap...

Long time no post anything...
Sejak laptop mendadak lama bgt loadingnya kalau buka blog...
Jadi ganti kesibukan... Nge-FB, Nge-Tweet ...
Masih nulis-nulis juga...
Belakangan fokus ke cerpen, mau ikutan sebuah event...

Yup, now i post a poem...
Sebuah Puisi berjudul:

Tap... Tap... Tap...

Tap... Tap... Tap...
Tap... Tap... Tap... Tap...
Tapak-tapak berderap...
Langkah-langkah mantap...
Pasti... ragu-ragu jauh pergi...
lari-lari... mengenjar impi...


Tap... Tap... Tap...
Tap... Tap... Tap... Tap...
Mata-mata mengerjap...
Kedepan, lurus menatap...
Tiada kerling ke kanan kiri...
Berbinar... Menelan cerahnya hari...



Dan bibir mengatup...
Mengembang senyum nan tertiup...
Dan dada membusung...
Membuang nanar nan menggantung...
Dan laju laksana marmut...
Melesat mengibas kabut...


Tap... Tap... Tap...
Jangan lamban, kalah hendak mendekap...
Tap... Tap... Tap...
Cepat! Cepat! sengsara ingin menangkap...
BRUAKK! Bangun! Lari!
Lekas! Hancur kemari membayangi!


Tap... Tap... Tap...
Tap... Tap... Tap... Tap...
Itu dia, tujuan nan melambaikan bendera...
Hampir sampai, teriak sorak membara-bara...
Bakar! Hanguskan hasrat dengan semangat!
Siram! Basahkan gersang dengan rinai lebat!

Saturday, June 19, 2010

Kepak Sayap Sebelah

Sebuah Puisi berjudul:
Kepak Sayap Sebelah

Mendukalah jiwa...
Memustuslah asa...
Terbaring di rumput-rumput kering...
Menatap wajah mentari nan menguning...
Tiada hasrat untuk terbang tinggi...
Atau sekedar berdiri...


Membekulah kata...
Meneriakkan pedih dengan bola mata...
Hanya terbaring di rumput-rumput kering...
Menatap wajah mentari nan menguning...
Tiada kuasa memaki...
Atau sekedar mencaci...


Hanya di tanah, terkulai...
Laksana seonggok bangkai...
Aku penat, mengepak sayap...
Dengan pandangan gelap...
Aku terhempas, terjatuh, tak sanggup berdiri...
Siapa yang sudi mengangkat, atau mengulurkan jemari?


Sayap ku patah, sebelah...
Tubuhku lelah, tergeletak di tanah...
Hanya terbaring di rumput-rumput kering...
Menatap wajah mentari nan menguning...
Tak perlu aku harap lagi terbang ke langit nan cerah...
Aku hanya akan jatuh lagi, ke bawah...


Bangkit, wahai pengarung langit...
Sekawanan burung mencicit...
Bangkit, wahai penerbang perkasa...
Sejumput rumput mendesahkan kata...
Bangkit, wahai ksatria berlumur darah...
Terbang! Kepak sayap sebelah...



Menggumpal lah hasrat...
Mengumpul lah semangat...
PLAK! PLAK! PLAK!
Ku coba mengepak...
Tak kusangka, Aku terbang walau rendah...
Walau hanya dengan sayap sebelah...




P.S.
[Serius! untuk puisi yang satu ini nyari gambarnya susah mintak ampun!!]
[Jadi maaf ya, readers. kalo gambarnya kurang memuaskan  ~writer, Aul~ ]

Tuesday, June 15, 2010

Dera, Desah Dan Deru

Aslm.

Sebuah Puisi berjudul:
Dera, Desah Dan Deru


Termenung aku merenung...
Dera masalah tiada ujung...
Terbuai aku dibelai...
Desah syahdu semilir pantai...
Tersipu aku malu...
Deru puji berpagut rayu...



Bahkan riak-riak merusak...
Bahkan buih-buih memutih...
Bahkan deras-deras menghempas..
Bahkan sayup-sayup bertiup...
Tak dapat menimbun lubang meluka...
Tak dapat menambal lubang melara...


Perihnya cinta, kala didera murka...
Pedihnya rindu, kala didera waktu...
Sejuknya cinta, kala mendesah rasa...
Segarnya rindu, kala mendesah haru...
Beningnya cinta, kala menderu rona...
Busuknya rindu, kala menderu nafsu...



Antara murka dan waktu nan mendera...
Adakah mesra melentera...?
Antara rasa dan haru nan mendesah...
Adakah gundah meresah...?
Antara rona dan nafsu nan menderu...
Adakah pilu menggebu...?


Jangan renung kemelut tiada ujung...
Karena dera menampung bingung...
Jangan buai dibelai semilir pantai...
Karena desah menuai badai...
Jangan malu dipagut rayu...
Karena deru mengharu biru...
 Padamu...

Saturday, June 5, 2010

Simfoni Sendu, Menepis Harap-Harap

Aslm.

Sebuah Puisi berjudul:

Simfoni Sendu, Menepis Harap-Harap

Ingatkah kau, mimpi itu?
Mimpi indah di waktu lalu...
Mimpi-mimpi nan mengukir suka...
Mimpi-mimpi nan melukis tawa...
Mimpi-mimpi nan tiada luput terkenang-kenang...
Mimpi-mimpi nan tiada hilang terbayang-bayang...

 
 Kala kita bersua pun tiada...
Mimpi itu melanglang ke atas mega...
Ringan... tanpa beban menahan-nahan...
Tenang... tanpa semilir mengguncang jalan...
Tinggi... ke arah matahari menari-nari...
Pergi... bersama angan berlari-lari...


Akan kau hanya mematung memandang...
Langit bersemburat sinar-sinar petang...?
Perlahan akan nafas tersengal-sengal...
Memburu Hasrat-hasrat binal...
Dengan jemari terkulai, tiada kuasa menggapai-gapai...
Harap-harap nan tak sampai...

Color Splash, Trees, Rainbows, Colour Splash, Keefers Pictures, Images and Photos

Apa kau menanti mimpi...
Nan tak jua menghampiri...?
Atau kau menunggu...
Gagak-gagak memekikkan simfoni sendu...?
Untuk mendekap ucap-ucap...
Untuk menepis harap-harap...?



Dan simfoni itu benar melantun...
 Tiada hanya pekik gagak, pun lengking kumbang mengalun...
Dan simfoni itu benar sendu...
Menyayat-nyayat pilu laksana sembilu...
Dan sekejap melenyap...
Simfoni sendu, menepis harap-harap...



Biar mimpi-mimpi itu melambung tinggi...
Jangan jua diharap kembali...
Baik sisanya disimpan, rapat-rapat...
Direngkuh, digengam erat-erat..
Atau kita tanam sajalah lagi...
Ke lubang rahasia masa depan nan kita gali...

Monday, April 26, 2010

Di Antara Rindu

Aslm...
Sebuah Puisi berjudul:
Di Antara Rindu

Pagi Kelu...
Siang Hening...
Sore bisu...
Malam Asing...
Di antara rindu...
Rindu-rindu nan jernih lagi bening...


Ya... di antara rindu...
Rindu nan pilu...
Rindu nan haru...
Rindu nan syahdu...
Rindu nan tak kan lalu...
Rindu nan tak dilekangi waktu...


Dan rindu itu...
Bukan hanya sekedar rindu...
Bukan rindunya lebah akan madu...
Bukan rindunya rintik hujan akan pinus layu...
Bahkan bukan pula rindunya jalanan kering berdebu...
Akan segarnya butir-butir salju...

Black and White Pictures, Images and Photos

Rindu itu...
Lebih dari rindunya pelangi akan awan kelabu...
Lebih dari rindunya bumi akan langit biru...
Lebih dari rindunya lumut akan batu...
Bahkan lebih dari rindunya burung hantu...
Pada lubang-lubang di batang perdu...


Dan di antara rindu yang terkenang...
Ada segenggam tanah yang gersang...
Dan di antara rindu yang terkisah...
Ada sejumput rumput yang mendesah...
Dan di antara rindu yang bersinar...
Ada seuntai lara yang berkibar...


Dan di antara pilu...
Dan di antara haru...
Dan di antara syahdu...
Dan di antara waktu...
Ada rona-rona rindu...
Ada kelip-kelip rindu...

My Ping in TotalPing.com
submitgooglesitemap.com Sitemap Generator